Hati-hatii memilih pengembang proyek perumahan. Hati-hatii memilih pengembang proyek perumahan.

Ajukan KPR, Hati-Hati Memilih Pengembang

229 Kali

Memilih pengembang tidaklah mudah. Harus hati-hati dan cerdas. “Memang harus hati-hati. Salah pilih pengembang, bukan untung malah buntung didapat,” ujar Wakil Ketua Real Estat Indonesia (REI) Soloraya, Wahyu Adhi Dermawan, saat dijumpai Rumah190.com, beberapa waktu lalu. Program KPR memang bisa menjadi solusi. Namun konsumen perlu mewaspadai keberdaan pengembang nakal yang bisa merugikan di kemudian hari. “Jadi konsumen itu harus cerdas. Jangan langsung percaya dengan janji-janji pengembang. Sudah menjadi hak konsumen untuk menagih janji yang belum direalisasikan pengembang,” kata Wahyu.

Menurut Wahyu, beberapa permasalahan yang kerap dikeluhkan konsumen antara lain tidak sesuainya spek bahan bangunan rumah, sertifikat rumah tidak jelas, kualitas air rendah, keberadaan rumah dipermasalahkan pemerintah daerah setempat karena berdiri di kawasan terlarang, belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB), belum disertai analisis dampak lingkungan, dan lain-lain. “Kalau cuma cat mengelupas, atap bocor, atau atap rumah rusak itu masih bisa diperbaiki sendiri. Tapi bagaimana kalau ternyata sertifikat rumah itu belum jadi karena pengembang lepas tangan? Bagaimana jika pemerintah meminta bangunan rumah itu dibongkar? Jadinya nasib konsumen menggantung,” paparnya.

Ditemui di kantornya, DBM Business BTN Syariah Solo, Adi Susbiyanto, mengakui ada pengembang nakal yang merugikan konsumen. Kenakalan pengembang itu tak jarang menyebabkan terjadinya kredit macet dari kalangan konsumen. “Sebenarnya itu urusan konsumen dengan pengembang yang tidak ada hubungannya dengan kewajiban konsumen untuk mengangsur pembayaran rumah kepada bank. Akan tetapi, kadang konsumen berpikir mengapa dia harus melunasi rumah sementara fasilitas yang dijanjikan pengembang tidak dipenuhi,” ucapnya.

Adi menjelaskan kerugian akibat kredit macet masih dianggap wajar jika berada di bawah 5% dari total dana yang dikucurkan untuk program KPR. Jika kredit macet berada di atas 5%, baru dianggap tidak wajar. Namun begitu, investasi di bidang properti sebetulnya tetap menguntungkan pihak bank kendati terdapat risiko kredit macet.

“Properti adalah investasi yang paling aman untuk bank sejauh ini. Tak heran sekarang hampir semua bank sudah melayani program KPR. Kerugian akibat kredit macet masih bisa dikaver karena nilai aset rumah selalu naik setiap tahunnya. Kalau selama lima tahun rumah itu kami lelangkan, keuntungannya sudah cukup untuk menutupi kerugian akibat kredit macet,” jelasnya.

Adi menambahkan per Maret 2014 ini terjadi kenaikan suku bunga untuk pembiayaan KPR selama 10 tahun di BTN Syariah dari 13,25% menjadi 13,50%. Menurutnya kenaikan suku bunga tersebut tidak jauh berbeda dengan bank lain. “Kenaikan itu terjadi di skala nasional. Biasanya dipengaruhi kondisi BI rate, kenaikan dolar, dan lain-lain,” paparnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS