Rumah bergaya kolonial yang dihibahkan negara kepada Pemkot Solo. (M. Ferri Setiawan/JIBI) Rumah bergaya kolonial yang dihibahkan negara kepada Pemkot Solo. (M. Ferri Setiawan/JIBI)

ARSITEKTUR RUMAH: Bergaya Kolonial

1688 Kali

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo baru saja menerima hibah dari negara berupa tanah dan bangunan di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 70, Sondakan, Laweyan, Solo. Selama ini, tanah dan bangunan tersebut tidak terlihat dari luar karena tertutup pagar yang cukup tinggi.

Saat penyerahan tanah dan bangunan tersebut, Selasa (17/10/2017), Rumah190.com, berkesempatan masuk dan mengajak dosen Arsitektur Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo yang juga anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Solo, Rully ST., MT., untuk melihat dan mengulas gaya bangunannya. Pemkot Solo berencana menjadikan bangunan itu sebagai Museum Batik.

Melalui pintu regol besar menghadap ke timur, terlihat sebuah bangunan dengan model lama. Dari penjelasan saat serah terima bangunan seluas 597,75 meter persegi tersebut berdiri di atas tanah seluas 3.007 meter persegi. Dengan halaman depan yang cukup luas, bangunan tersebut terdiri atas bangunan utama di tengah menghadap timur diapit dua bangunan lagi di sisi kiri kanan yang terhubung dengan selasar. Rumah itu menurut keterangan penjaganya, Jumari, merupakan bangunan baru dengan model sesuai model bangunan rumah sebelumnya.

“Melihat model bangunan rumahnya, ini merupakan rumah bergaya kolonial [Belanda]. Kendati bergaya kolonial, keberadaan dua bangunan di samping kiri dan kanan menunjukkan bangunan ini juga mengadopsi gaya tradisional Jawa, yakni adanya gandok kiwa dan gandok tengen,” terang Rully.

Rumah bergaya kolonial yang dihibahkan negara kepada Pemkot Solo.  (M. Ferri Setiawan/JIBI)

Rumah bergaya kolonial yang dihibahkan negara kepada Pemkot Solo. (M. Ferri Setiawan/JIBI)

Menurut Rully, ciri dari rumah bergaya kolonial bisa dilihat pada proporsi bangunan rumahnya yang serbabesar. Seperti jarak antara lantai dengan plafon, pada rumah biasa jaraknya rata-rata tiga meter, namun bangunan kolonial lebih dari tiga meter. Kemudian bangunan utamanya banyak pilar dengan dimensi cukup besar. Kendati satu lantai, kata Rully, namun tetap menggunakan pilar yang besar karena untuk mengejar estetika.

“Ciri lainnya dari bangunan bergaya kolonial adalah penggunaan kaca patri untuk pencahayaan sekaligus aksesori. Karena kaca patri menghadirkan efek pencahayaan yang indah ketika terkena sinar matahari,” ujarnya.

Mengenai penataan ruang untuk rumah bergaya kolonial, memang sesuai kebutuhan. Hal ini berbeda dengan gaya arsitektur tradisional Jawa yang mengedepankan fungsi dari masing-masing ruang. Menurut Rully, pada bangunan utama di tengah, setelah pendapa yang cukup luas masuk ke dalam kanan kiri terdapat kamar tidur dengan kamar mandi ke dalam. Kemudian masuk lagi ada ruang cukup lebar yang diperuntukkan ruang keluarga dan ruang makan. Bagian belakang ada teras yang menghadap ke kebun.

Bangunan kiri dan kanan menghadap ke utara dan selatan terdapat teras dan dua kamar tidur dengan kamar mandi dalam bergaya kolonial. Hanya untuk sisi kiri (utara) bagian belakang sendiri difungsikan sebagai garasi, sedang sisi kanan (selatan) bagian belakang sebagai kamar penjaga rumah. “Secara keseluruhan ini bangunan baru yang sebagian elemennya lama seperti lantai menggunakan tegel lama, keramik di dinding pendapa menggunakan keramik lama, dan pot bunga lama. Sementara lainnya baru, seperti plafon, pintu, dan jendela baru,” jelas Rully. (Arif Fajar S./JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS