Rumah peninggalan dr. Oen di Jl. S. Parman Kelurahan Stabelan, Banjarsari, Solo, masuk dalam kategori benda cagar budaya. (Rumah190/Nicolous Irawan) Rumah peninggalan dr. Oen di Jl. S. Parman Kelurahan Stabelan, Banjarsari, Solo, masuk dalam kategori benda cagar budaya. (Rumah190/Nicolous Irawan)

BANGUNAN CAGAR BUDAYA: Menata Rumah Peninggalan dr. Oen

1511 Kali

Nama dr. Oen sudah tak asing lagi terdengar di telinga sebagian masyarakat Kota Solo dan sekitarnya. Namanya kian dikenal dan dikenang masyarakat setelah diabadikan menjadi nama rumah sakit (RS) swasta di Jebres, Solo dan Solo Baru, Sukoharjo. Pemberian nama RS dr. Oen didasari atas kontribusi dr. Oen yang menjadi pemrakarsa berdirinya Yayasan Kesehatan Tsi Sheng Yuan, yang kemudian membentuk RS Panti Kosala (embrio RS dr. Oen).

Rumah peninggalan dr. Oen di Jl. S. Parman Kelurahan Stabelan, Banjarsari, Solo, masuk dalam kategori benda cagar budaya. (Rumah190/Nicolous Irawan)

Lukisan dr. Oen dipajang di salah satu dinding. (Rumah190/Nicolous Irawan)

Sejarah mencatat dr. Oen bukanlah warga asli Solo. Dia lahir di Salatiga pada 3 Maret 1903. Di dalam dokumen tertulis yang diterbitkan Yayasan Kesehatan Panti Kosala pada saat penetapan pergantian nama RS Panti Kosala menjadi RS dr. Oen tanggal 3 Maret 1983, dijelaskan dr. Oen mulai tinggal di Solo setelah “membangun” rumah tangga bersama Corrie Djie Oen Nio pada 1933. Di Solo, pemilik nama lengkap Oen Boen Ing itu awalnya bekerja sebagai dokter swasta di samping membantu rumah sakit Zieken-zorg.

Tidak disebutkan secara pasti di dalam catatan Lima Puluh Tahun Mengabdi Rumah Sakit Panti Kosala (1933-1983), tentang tempat tinggal dr. Oen selama di Solo. Namun berdasarkan informasi yang beredar, dr. Oen semasa hidupnya menempati sebuah rumah yang letaknya kini di Jl. S. Parman Kelurahan Stabelan, Banjarsari, Solo. Informasi itu menjadi valid ketika Rumah190 Selasa (20/2) pagi, mendapati prasasti penetapan bangunan cagar budaya (BCB) oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada pagar tembok sebuah bangunan di Jl. S. Parman No. 48 yang dinyatakan sebagai rumah dr. Oen.

cagar budaya

Jika dilihat dari luar, kompleks rumah peninggalan dr. Oen kini tampak jauh dari kesan kompleks bangunan kuno bersejarah. Kompleks rumah itu sekarang dilengkapi pagar tembok ala rumah kekinian. Pagar tembok kombinasi besi itu bahkan dibangun dengan tinggi kurang lebih 2 m sehingga sedikit menutupi bagian depan bangunan inti rumah peninggalan dr. Oen. Hanya bagian atap rumah yang bisa dilihat dengan jelas dari Jl. S. Parman. Bagian atap itu pun tidak lagi menujukkan ciri-ciri bangunan lawas. Bagian genteng pada atap telah diganti dengan genteng baru berwarna cokelat mengkilap.

Rumah peninggalan dr. Oen kini dikelola keluarga Budi Darma dan Tuti Handoyo. Mereka adalah keponakan dari Christin yang menjadi ahli waris dari rumah dr. Oen. Sedangkan Christin merupakan keponakan dari istri dr. Oen. Karena memutuskan tinggal di tanah kelahirannya di Kediri, keluarga Budi Darma akhirnya mengutus anaknya untuk merawat rumah peninggalan dr. Oen tersebut. Oleh keluarga anak dari Budi Darma itu lah, beberapa bagian rumah peninggalan dr. Oen yang rusak kemudian diperbaiki hingga direhabilitasi.

Salah satu sudut ruangan di rumah peninggalan dr. Oen. (Rumah190/Nicolous Irawan)

Salah satu sudut ruangan di rumah peninggalan dr. Oen. (Rumah190/Nicolous Irawan)

Menantu Budi Darma, William Tandarto, 33, membeberkan beberapa bagian rumah peninggalan dr. Oen yang telah direhabilitasi antara lain lantai, atap, dan pintu. Mereka tidak mengubah bentuk bangunan rumah karena bisa menyalahi aturan BCB. Berdasarkan pantauan Rumah190, sejumlah barang peninggalan dr. Oen masih tersimpan di rumah tersebut. Di ruang depan setelah masuk pintu utama rumah misalnya, terdapat barang-barang koleksi dr. Oen yang dipajang di lemari besar dan panjang. Beberapa barang yang dipajang antara lain mulai dari lampu minyak, cangkir, gelas, buku-buku, hingga lukisan-lukisan lawas sosok dr. Oen.

“Setahu saya ada beberapa barang peninggalan lain yang telah diserahkan ke Yayasan Kesehatan Panti Kosala atau RS dr. Oen untuk mereka simpan,” kata William saat berbincang dengan Espos di rumah peninggalan dr. Oen, Selasa.

Salah satu sudut ruangan di rumah peninggalan dr. Oen. (Rumah190/Nicolous Irawan)

Salah satu sudut ruangan di rumah peninggalan dr. Oen. (Rumah190/Nicolous Irawan)

William mengakui kompleks rumah peninggalan dr. Oen telah mengalami perubahan cukup signifikan. Dia mencontohkan salah satu perubahan yang terjadi yakni terkait pemanfaatan lahan di selatan bangunan rumah peninggalan dr. Oen. Lahan tersebut kini telah dipakai keluargannya untuk bangunan usaha kafe. William memastikan pendirian bangunan Kafe Karunia Milk itu tak menyalahi aturan pemanfaatan BCB. Pihaknya berdalih tidak mengubah bangunan rumah dr. Oen. Lagi pula, pengunjung kafe selama ini tidak diperkenankan masuk dengan bebas ke rumah peninggalan dr. Oen itu.

“Rumah peninggalan dr. Oen selama ini tidak kami buka untuk umum. Hanya beberapa kalangan yang kami persilakan masuk, seperti belum lama ini ada guru-guru dari Kalam Kudus yang spontan datang untuk lebih mengenal sosok dr. Oen,” kata William.

William menyampaikan kehadiran guru-guru Kalam Kudus itu sebenarnya mengilhami dirinya untuk lebih membuka lagi rumah peninggalan dr. Oen bagi masyarakat umum, khususnya yang ingin mengenal sosok dr. Oen. Dia sedang berupaya sedikit demi sedikit menata lagi rumah bangunan kolonial itu sehingga bisa menyerupai kondisi tempo dulu. (Irawan Sapto Adhi)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS