Toilet ramah difabel di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (Dok./JIBI) Toilet ramah difabel di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (Dok./JIBI)

Bangunan Ramah Difabel agar Nyaman dan Mandiri

435 Kali

Pemerintah Kota Solo belakangan menggencarkan program Kota Ramah Difabel, salah satunya dengan membangun aksesibilitas bagi difabel. Terciptanya aksesibilitas ini akan menunjang kemandirian penyandang difabel. Ketersediaan aksesibilitas ini tidak hanya berlaku di fasilitas umum seperti gedung perkantoran, bus, terminal, stasiun dan lain-lain. Rumah pun sewajarnya bisa menjadi lokasi yang ramah dan nyaman bagi penyandang difabel.

Pengawas bangunan fisik di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. dr. Soeharso Solo, Sriyanto, memberikan gambaran rumah ramah difabel yang mengacu pada persyaratan teknis yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum. Menurut alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo ini, pembangunan rumah ramah difabel harus menyesuaikan jenis kecacatan yang dimiliki seseorang. “Kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang tuna daksa tentu berbeda dengan yang dibutuhkan tuna netra,” katanya saat ditemui Espos di kantornya, Rabu (12/2).

Sriyanto mencontohkan pembuatan pedestrian khusus difabel berkursi roda harus memenuhi persyaratan seperti permukaan jalan stabil, kuat, tahan cuaca, dan menghindari adanya gundukan. Pembuatan ramp atau jalur miring syaratnya tidak lebih dari 7 derajat. Untuk ramp panjang disarankan terdapat pemberhentian pada jarak 9 meter untuk istirahat. “Kalau kemiringan lebih dari 7 derajat, pedestrian itu akan menyulitkan bahkan cenderung membahayakan keselamatan difabel,” jelasnya.

Penyandang tuna netra memerlukan jalur pedestrian dengan memanfaatkan ubin bertekstur khusus sebagai pemandu arah jalan. Ubin bertektur garis-garis bisa digunakan untuk penunjuk arah, sementara ubin yang bertekstur bulat bisa difungsikan sebagai peringatan atau penanda adanya perubahan arah.

Bagi rumah bertingkat, pembuatan lift memang membutuhkan biaya yang relatif besar. Pembuatan tangga yang nyaman bisa menjadi pilihan aksesibilitas bagi penyandag polio yang masih bisa mengandalkan kekuatan kakinya untuk berjalan. Menurut Sriyanto, tangga harus dirancang dengan mempertimbangkan ukuran, kemiringan pijakan dan tanjakan yang memadai. Tangga tersebut diharusnya memiliki kemiringan kurang dari 60 derajat. Ketinggian antaranak tangga disarankan tidak lebih dari 19 cm agar pengguna tak kelelahan.

Kamar mandi juga harus ramah difabel. Luasnya harus cukup untuk memudahkan ruang gerak difabel, khususnya pengguna kursi roda. Disarankan menggunakan kloset duduk dengan ketinggian antara 40 cm-45 cm dari lantai kamar mandi. Kamar kecil ini tetap harus menyediakan pegangan rambat bagi difabel. “Rumah yang baik harus menggunakan jenis perabotan yang mudah dimanfaatkan difabel. Khusus penyandang tunawicara atau rungu, keberadaan tulisan-tulisan sebagai petunjuk penggunaan perabotan amat membantu,” kata Sapto Sugroho, Ketua Yayasan Talenta yang bergerak di bidang pemberdayaan difabel di Kota Solo. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Eksterior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS