tumpukan bata ringan

Bata Ringan, Solusi Hemat Bangun Rumah

4959 Kali

RUMAH190.COM—Apakah Anda pernah mendengar istilah bata ringan atau hebel? Bata ringan adalah salah satu hasil rekayasa teknik sipil dan bangunan. Material tersebut adalah bahan pengisi dinding yang menyerupai beton dan memiliki sifat kuat, tahan air dan api, awet (durable) yang dibuat di pabrik menggunakan mesin. Bata ini cukup ringan, halus dan memiliki tingkat kerataan permukaan yang baik. Bata ringan diciptakan dengan tujuan memperingan beban strukur dari sebuah bangunan konstruksi, mempercepat pelaksanaan, serta meminimalisasi sisa material yang terjadi pada saat proses pemasangan dinding berlangsung. Ada dua jenis bata ringan, Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC).  Kali ini kita akan membahas bata ringan AAC.

Bata ringan AAC dibuat dari adonan yang terdiri atas pasir silika, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi). Setelah adonan tercampur sempurna, adonan akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan beton. Biasanya bata ringan memiliki panjang 60 cm, tinggi 20 cm dan tebal 7,5 cm, 10 cm dan 15 cm. Satu meter kubik bata ringan yang dihargai Rp800.000-Rp850.000 dengan ketebalan 10 cm bisa digunakan untuk mengisi dinding seluas 10 meter persegi. Sedangkan untuk ketebalan 7,5 cm, bisa membentuk dinding 13 meter persegi.bagian tembok bata ringan yang sudah direkatkan dengan mortar di Perumahan Sri Soeta Jetis, Sukoharjo. Foto diambil Selasa (21 9) foto 2

Bata ringan tidak direkatkan dengan campuran pasir dan semen layaknya bata merah dan batako pres. Ia direkatkan dengan semen instan atau mortar. Satu sak mortar seberat 40 kg bisa digunakan untuk merekatkan satu meter kubik bata ringan. Satu sak mortar merk Mortar Utama biasa dihargai sekitar Rp120.000.

Tren penggunaan bata ringan meningkat seiring dengan makin mahalnya harga pasir dan mahalnya upah tukang. Beberapa hotel seperti Hotel Alana Colomadu juga menggunakan bata ringan. Selain untuk bangunan struktur bertingkat, bata ringan mulai merambah rumah tinggal.

Salah satu pengembang perumahan yang menggunakan bata ringan, Hafid Hari Sunaryo, 33, mengatakan dirinya beralih dari bata merah ke bata ringan sekitar setahun lalu. Pemilik perusahaan pengembang perumahan Sri Soeta tersebut melihat prospek bata ringan dalam bidang konstruksi sehingga beberapa perumahan yang ia garap seperti Ndalem Gayatri (Gayam, Sukoharjo) dan Sri Soeta Jetis (Sukoharjo) juga menggunakan bata ringan.

Bapak tiga anak itu mengatakan bata ringan memiliki banyak kelebihan seperti memiliki ukuran dan kualitas yang seragam sehingga dapat menghasilkan dinding yang rapi. Bentuk yang presisi tersebut menghemat perekat (mortar), tidak seperti pemasangan bata merah. Dinding dari bata ringan tidak memerlukan plesteran yang tebal, maksimal 1 cm. Plasteran untuk bata merah 1,5 cm-2 cm.

“Harga bata ringan memang lebih mahal dari bata merah. Tapi jika melihat harga perekat dan kerapian, harganya relatif sama atau mungkin lebih murah dibanding bata merah. Tapi pemasangannya lebih cepat sehingga menghemat biaya tukang,” ujarnya di Jl. Mayor Sunaryo 43, Jetis, Sukoharjo.

Meski berukuran relatif besar, bata ringan cenderung lebih ringan dari pada bata biasa sehingga memperkecil beban struktur. Namun, material yang ringan itu kadang membuat orang berpersepsi keliru. Banyak konsumen yang mengira bahan yang ringan tidak memiliki kekuatan yang cukup.

“Bata ringan dibuat dipabrik dengan serangkaian uji tekan, uji tahan dan lain-lain. Cara sederhananya ya dijatuhkan dari ketinggian yang sama [bata ringan dengan bata merah]. Bata merah pasti lebih mudah rusak,” kata pemilik Toko Bangunan Jaya Sampurna di Jl. Raya Telukan Grogol, Sukoharjo itu.

Bata ringan juga dikenal kedap air sehingga kecil kemungkinan terjadi rembesan air. Bata itu juga lebih tahan panas dan mempunyai kekedapan suara yang baik.

“Kalau sebalik dinding terjadi kebakaran, sisi lainnya masih bisa bertahan hingga tiga jam. Suhu ruangan biasanya juga lebih dingin dibanding dinding bata merah,” kata dia.

Salah seorang warga Ngringo, Jaten, Karanganyar, Wahyu Bekti, mengaku menggunakan bata ringan AAC sebagai pengisi dinding rumahnya. Ia membangun rumah tersebut pada akhir 2014. Kala itu harga pasir melambung hingga Rp1,5 juta per bak truk. Ia merasa beruntung karena ia dan suaminya telah memilih bata ringan sehingga pasir hanya digunakan untuk pengecoran kolom dan balok serta plesteran.

“Waktu pengerjaan sangat cepat. Untuk rumah ukuran 64 meter persegi, seluruh bata ringan bisa terpasang kurang dari dua pekan. Kalau ditotal, waktu pengerjaan sekitar dua bulan sampai finishing,” ujar dia. (Ivan Andimuhtarom)

 

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS