Kebocoran sering terjadi pada bentuk lipatan atap berupa talang miring. Untuk mengantisipasinya gunakan bahan yang tahan berbagai kondisi cuaca dan kebersihan harus dicek selalu. (Dok) Kebocoran sering terjadi pada bentuk lipatan atap berupa talang miring. Untuk mengantisipasinya gunakan bahan yang tahan berbagai kondisi cuaca dan kebersihan harus dicek selalu. (Dok)

Desain Eksterior: Atap Bebas dari Bocor

548 Kali

 

Hujan yang terus-terusan datang membuat Susanto, 28, gundah. Bukan bermaksud menolak datangnya berkah dari Sang Pemberi Rezeki. Ayah beranak satu itu gundah karena rumah kontrakannya di kawasan Jaten, Karanganyar, selalu bocor saat hujan tiba. “Saya sudah berusaha mencari titik kebocoran itu. Tapi tidak saya temukan genting yang rusak. Apakah berasal dari rembesan air hujan melalui celah-celah genting, saya juga tidak tahu,” ujarnyam beberapa waktu lalu.

Pakar arsitektur rumah asal Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Muhammad Muqoffa, menjelaskan atap merupakan komponen penting dalam struktur bangunan rumah. Kesalahan dalam mendesain atap, kata Muqoffa, bisa berdampak pada ketidaknyamanan penghuni rumah. Penggunaan desain atap yang rumit bisa memicu pemakaian talang yang lebih banyak. Padahal, menurutnya, penggunaan banyak talang pada atap rumah itu tidak sejalan dengan prinsip desain atap yang nyaman.

“Semakin sedikit talang yang digunakan maka semakin sedikit pula potensi kebocoran. Kalau bisa, lebih baik atap itu tidak usah memakai talang. Sebab talang itu berfungsi sebagai penampung air saat hujan. Kalau ada tampungan air hujan di atap, otomatis akan lebih riskan bocor,” jelas Muqoffa.

Muqoffa menambahkan desain atap seharusnya dibuat sesimpel mungkin. Menurutnya, sudut kemiringan atap rumah seharusnya di atas 30 derajat. Bahkan dia menyarankan supaya sudut kemiringan atap bisa mencapai 50 hingga 60 derajat. Dia menjelaskan sudut kemiringan atap yang kurang dari 30 derajat paling rentan bocor. Susunan konfigurasi genting yang bertumpuk-tumpuk itu memudahkan terjadinya rembesan air jika kemiringan atap kurang dari 30 derajat. “Logikanya, air yang datang dari langit itu akan diterima atap. Semakin cepat air meninggalkan atap itu semakin baik. Dengan begitu, dibutuhkan kemiringan atap yang tepat supaya air bisa mengalir maksimal,” katanya.

“Kadang desain atap dibuat neka-neka. Bentuknya overlapping dan sangat meriah. Di samping boros, desain atap yang demikian itu justru mengundang sela-sela masuknya rembesan air ke dalam rumah,” tandasnya.

Menurut pengamatan Muqoffa, model atap pada perumahaan sekarang ini sudah cenderung menggunakan atap dengan desain sederhana. Dia menyebut desain sederhana pada atap rumah itu dengan istilah model kampung. Model demikian sudah meninggalkan penggunaan talang. Kalaupun masih menggunakan talang, lokasinya berada di tepian atap. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Eksterior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS