Istimewa/Rendra Wicaksono Pamungkas Kantor PT Waskita Karya di lokasi proyek pembangunan Waduk Gondang, Karanganyar. Nyaman berkantor di kontainer Istimewa/Rendra Wicaksono Pamungkas Kantor PT Waskita Karya di lokasi proyek pembangunan Waduk Gondang, Karanganyar. Nyaman berkantor di kontainer

Desain Gedung: Nyaman Berkantor di Kontainer

342 Kali

eti kemas atau kontainer tak hanya digunakan untuk mengangkut dan menyimpan barang. Kotak berukuran besar ini juga bisa diubah menjadi kantor atau kafe dengan cita rasa seni tinggi. Sejumlah arsitektur di Jakarta, Jogja, Solo, juga sudah menggunakan kontainer sebagai bahan utama bangunan mereka.

Salah satunya PT Waskita Karya, yang membangun kantor dari peti kemas dalam proyek pembangunan Waduk Gondang di Karanganyar. Diarsiteki Pelaksana Fasilitas PT Waskita Karya, Rendra Wicaksono Pamungkas, dia membuat kantor kontraktor (contraktor keet) pada proyek pembangunan Waduk Gondang itu dari peti kemas. Kantor tiga lantai itu berdiri pada tanah seluas 78 meter persegi.

Lantai satu digunakan untuk ruang tamu, pelaksana logistik, K3LMP, dua kamar kecil, ruang rapat kecil kapasitas enam orang, dan dapur. Lantai dua untuk pelaksana teknik, keuangan, dan lain-lain. Lantai tiga untuk kepala proyek.

Rendra menyebut penggunaan kontainer sebagai bahan bangunan sudah booming. “Restoran dan kantor [menggunakan kontainer]. Kalau rumah, saya rasa harus selektif mencari lokasi di Indonesia. Berbeda dengan di luar negeri. Soal cuaca menjadi salah satu pertimbangan,” kata dia, beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi apabila hendak membangun rumah dari peti kemas. Kekuatan konstruksi bangunan terutama struktur tanah. Struktur tanah menentukan jenis pondasi. Arsitek harus menggunakan pondasi tanam apabila kondisi tanah labil. Sebaliknya peti kemas dapat langsung diletakkan apabila kondisi tanah padat.

Lalu konstruksi tulang harus menggunakan baja karena menyatu dengan besi yang merupakan bahan utama kontainer. Sirkulasi udara pun harus diperhatikan. Rendra menyarankan desain hemat energi atau eco technology.

“Pakai glasswool lalu multipleks untuk peredam suara sehingga tidak berisik saat hujan. Efeknya panas. Maka membuat sirkulasi udara alami [jendela] atau buatan [pendingin ruangan]. Itu menyesuaikan desain,” jelas dia.

Container keet PT Waskita Karya di lokasi pembangunan Waduk Gondang menggunakan pendingin ruangan dan jendela. Rendra menyampaikan jendela juga digunakan untuk mengatur pencahayaan. Dia tidak menganjurkan membuat ventilasi apabila sekitar lokasi berdebu.

“Membuat jendela pun harus pas. Sedikit celah memungkinkan air atau debu masuk. Itu menyebabkan kesalahan lain. Ventilasi bisa dipilih untuk sirkulasi udara alami. Tetapi, pertimbangkan debu,” tutur dia.

Rendra menuturkan orang Karanganyar terutama di wilayah pegunungan dapat mengaplikasikan rumah kontainer. Namun berbeda dengan warga Solo yang menurut dia harus berpikir ulang apabila hendak membuat rumah dari kontainer. Cuaca di Solo cenderung panas akan membuat pemilik rumah kontainer memasang pendingin ruangan dengan daya tinggi.

Karena itulah Rendra menyebut cuaca dan lokasi menjadi pertimbangan utama. Selain itu, prinsip rumah kontainer adalah bongkar pasang. Sejumlah orang menyebut sistem bongkar pasang tidak akan merusak bagian lain. Proses pembuatan pun tidak memakan waktu lama. Rendra membuat container keet selama tiga bulan mulai dari pemasangan hingga finishing.

“Tahan lama dan cepat membuatnya. Hanya produksi dan pemasangannya mahal. Butuh kejelian. Misal membuat jendela dan lain-lain. Penyakitnya adalah karat. Itu kan bisa dibersihkan lalu dicat ulang. Kalau bocor ya dilas,” ujar dia sembari tertawa.

Rendra menyebut pekerjaan membuat rumah kontainer itu membutuhkan kerapian dan ketelitian kerja. Dia memberikan label kepada orang yang ingin memiliki rumah kontainer itu menginginkan privasi.

“Kan yang kelihatan hanya jendela. Isi di dalamnya enggak bisa dilihat. Yang pasti, kalau bangun di Solo harus dipertimbangkan. Jangan sampai terpanggang matahari saat di dalam.” (Sri Sumi Handayani/JIBI)

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS