rumah joglo rumah joglo

Desain Rumah: Joglo Gaya Kudus Di Kota Bengawan

363 Kali

 

Sebelum meninggal dunia, ayah Agus pernah menyampaikan angan-angannya untuk memiliki rumah joglo. Sayang, angan-angan itu belum sempat terwujud hingga sang ayah mengembuskan napas terakhirnya. Sebagai seorang anak, Agus merasa terpanggil untuk mewujudkan impian sang ayah kendati pun sudah tiada.

“Setelah ayah meninggal, saya selalu terngiang impian beliau. Sejak saat itu saya berhasrat mewujudkannya. Jika ada rizeki, pelan-pelan saya kumpulkan untuk merintis pembangunan rumah joglo impian ayah ini,” ujar Agus, 40, saat ditemui Espos di rumahnya, di Jl. Kahuripan Timur, RT 002/001, Sumber, Banjarsari, Solo, beberapa waktu lalu.

Kendati tinggal di Solo, rumah joglo milik pemilik usaha Solo Chrome ini didirikan dengan sentuhan gaya Kudus. Hal itu terlihat dari model ukiran yang memenuhi permukaan gebyok. Di situlah letak point of interest yang biasa menjadi pusat perhatian orang ketika singgah ke rumah joglo yang didirikan dua tahun silam itu. Pria yang lebih akrab disapa Agus “Solo Chrome” itu memang mengaku sangat menggandrungi ukiran khas Kudus. “Gebyok itu dibuat sendiri, bukan dibedol dari daerah lain. Kayunya dibeli di Rembang. Gebyok-nya dibuat di Rembang namun kami mendatangkan tenaga ukir dari Jepara,” papar Agus.

Rumah joglo milik Agus memiliki empat saka guru. Masing-masing saka guru memiliki ketebalan sekitar 23 centimeter. Pada bagian langit-langit pendapa terdapat dua limasan tumpang sari dengan tujuh tingkatan. Dalam khasanah budaya Jawa, makin tinggi tingkatan menunjukkan makin tinggi derajat maupun martabat pemilik rumah. Kendati begitu, Agus tidak mempedulikan perbedaan status sosial berdasarkan jumlah tingkatan pada limasan tumpangsari. “Limasan dengan tujuh tingkatan itu juga impian dari ayah sebelum meninggal. Kenapa tujuh, karena beliau memiliki tujuh anak. Kebetulan saya adalah anak ketujuh atau terakhirnya,” tandas Agus.

Rumah joglo milik Agus juga dilengkapi dengan sejumlah mebel yang dibuat dengan kayu berukuran tebal. Mebel itu juga dibuat oleh tenaga yang didatangkan dari Jepara. Keunikan lain dari rumah joglo milik Agus adalah ketiadaan cat atau pelitur untuk melapisi permukaan saka guru, limasan hingga gebyok. Dia sengaja tidak menggunakan pewarna kayu supaya terlihat lebih natural dan menimbulkan kesan klasik. “Saya ingin rumah ini berbeda dengan rumah joglo pada umumnya. Justru rumah ini akan terasa lebih klasik jika tanpa menggunakan pelitur atau cat pewarna,” ungkapnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS