Rumah Qomarun Rumah Qomarun

Desain Rumah: Mengacu Prinsip Keseimbangan Alam

641 Kali

 

Memasuki rumah yang terletak di Jl. Duwet III No. 9, Karangasem, Laweyan, Solo, ini suasana segar langsung terasa menyelimuti badan. Cuaca panas dan lembab yang menyelimuti Solo saat ini terasa langsung terjinakkan saat Espos duduk di mezzanine rumah yang difungsikan sebagai tempat menerima tamu. Aneka tanaman merambat seperti sirih-sirihan dari berbagai jenis terlihat di sekujur dinding dan sudut rumah dosen Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.

“Ini memang prinsip saya untuk selalu merangkul alam,” ujar Qomarun, sang tuan rumah, beberapa waktu lalu. Menurut dia, pertemuan sinar matahari dan hujan yang bermanfaat tidak boleh dikenai intervensi manusia. “Kita harus memanfaatkan pertemuan itu dengan cara mendukung proses fotosintesa pada tumbuh-tumbuhan,” katanya.

Inilah yang menjadi alasan baginya untuk sengaja memenuhi setiap sudut rumah yang saat ini hanya dihuni berdua bersama sang istri yang juga arsitek itu dengan aneka tanaman.

Agar praktis dan tidak menyita waktu, dirinya sengaja memilih tanaman yang membutuhkan perawatan minimal seperti sirih-sirihan dan aneka tanaman merambat lainnya. Pilihan tanaman yang lain adalah yang bermanfaat seperti cabai, pandan dan jeruk.

Keunikan lain dari rumah doktor arsitektur perkotaan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu adalah lantai dasarnya yang berupa kolam ikan berisi lele dan patin. Jika dicermati, maka rumah ini lebih mirip rumah panggung yang berdiri di atas kolom-kolom beton. Kolam ikan yang membentang sampai ke batas belakang rumah itu semuanya ditutup oleh lantai terali besi. Di atas terali ini bisa dibentangkan tikar dan karpet sehingga tercipta ruangan yang luas untuk pertemuan warga lingkungan, pengajian atau berdiskusi bersama para mahasiswanya. Keberadaan kolam ini sekaligus menyejukkan ruangan tinggal di atasnya.

Prinsip menjaga keseimbangan alam sangat dipegang oleh Qomarun. Sisa makanan langsung dijadikan pakan ikan sementara sampah organik lain dijadikan kompos. Limpasan air hujan dari atap sengaja dialirkan lewat dinding untuk mengairi tanaman-tanaman, sementara air dari talang juga diberi saluran khusus yang menembus ke bagian-bagian tanaman yang tidak terkena air hujan langsung. (R. Bambang Aris Sasangka/JIBI)

 

 

 

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS