Moh. Khodiq Duhri

Pemandangan pada langit-langit pendapa
Ndalem Joyokusuman. Moh. Khodiq Duhri Pemandangan pada langit-langit pendapa Ndalem Joyokusuman.

Desain Rumah: Ndalem Joyokusuman Tandai Runtuhnya Feodalisme

348 Kali

 

Keberadaan Ndalem Joyokusuman menjadi sumber inspirasi lahirnya novel Generasi yang Hilang karya Suparto Brata pada 1981. Novel itu menceritakan mulai lunturnya kejayaan para bangsawan dari keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia.

“Sejak PB X meninggal dunia pada 1939, Keraton seperti kehilangan ruhnya. PB X sering disebut sebagai Kaisar Jawa terbesar dan terakhir. Disebut terbesar karena pada masa kepemimpinannya, Keraton mengalami masa kejayaan. Disebut terakhir karena setelah dia meninggal dunia, Keraton sudah kehilangan kekuasaan seiring berdirinya negara republik,” jelas sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, beberapa waktu lalu.

Hilangnya kekuasaan raja-raja pewaris tahta kerajaan ternyata berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup bangsawan. Lambat laun, kalangan bangsawan, tanpa terkecuali Pangeran Joyokusumo, tidak bisa mempertahankan kekayaan aset miliknya. “Revolusi kemerdekaan adalah fase tenggelamnya dunia bangsawan. Dahulu bangsawan hidup berkecukupan karena digaji Keraton yang masih berjaya. Sejak kekuasaan diambil alih pemerintah RI, bangsawan tak punya otoritas politik. Parahnya, mereka tak punya bekal keterampilan untuk bertahan dari terpaan krisis,” ungkap Heri.

Krisis yang dialami kalangan bangsawan membuat mereka terpaksa menjual sejumlah aset kekayaan. Pada 1965, Pangeran Joyokusumo akhirnya menjual rumah mewahnya tersebut kepada saudagar batik, Malkan Sangidu. Oleh ahli warisnya, Ndalem Joyokusuman itu akhirnya dijual seharga Rp11 miliar kepada Widjanarko Puspoyo, yang saat itu menjabat Kepala Bulog. Lantaran terjerat kasus korupsi, Kejaksaan Agung akhirnya menyita Ndalem Joyokusuman dari tangan Widjanarko. Pemkot Solo sebetulnya sudah mengajukan permohonan untuk menerima hibah aset bersejarah tersebut. Namun, hingga kini proses akusisi itu masih menunggu proses perhitungan aset dan persetujuan dari presiden. “Wilayah sejarah terkadang diselimuti mitos tentang hal-hal gaib. Tak heran, Ndalem Joyokusuman kerap dijadikan lokasi uji nyali yang ditayangkan di TV swasta. Seharusnya ada wacana tentang pengetahuan sejarah yang diembuskan untuk mengimbangi pandangan tentang hal gaib itu,” tandas Heri. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS