Courtesy of KITLV Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies Paviliun rumah dinas perwira militer Bangunan tambahan Paviliun yang Serba Guna Courtesy of KITLV Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies Paviliun rumah dinas perwira militer Bangunan tambahan Paviliun yang Serba Guna

Desain Rumah: Paviliun yang Serbaguna

2369 Kali

Dalam khasanah arsitektur rumah adat Jawa tidak dikenal istilah paviliun atau bangunan rumah tambahan yang berlokasi di sekitar rumah induk. Rumah berukuran lebih kecil daripada rumah induk itu biasanya melekat pada rumah-rumah yang dibangun dengan sentuhan gaya arsitektur Eropa. Bangunan paviliun ini masih bisa dijumpai di sejumlah rumah peninggalan zaman kolonial Belanda di kawasan Villa Park Banjarsari atau kompleks bekas Rumah Dinas Administratur Pabrik Gula Gondang Winangun Klaten.

Ditilik dari kaca mata sejarah, paviliun pada masa kolonial Belanda biasa difungsikan sebagai tempat tinggal para rewang atau pembantu. Perbedaan kasta  antara majikan dan memang terlihat menonjol jika dilihat dari tata letak bangunan rumah. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan pavilun ternyata tidak banyak diminati warga. Semakin menurunnya ketersediaan lahan disinyalir membuat minat terhadap pendirian bangunan paviliun semakin menipis.

“Jadi alasannya sederhana. Sekarang lahan hunian itu terbatas sehingga cenderung tidak memungkinkan untuk pembangunan paviliun. Dengan lahan terbatas, orang hanya cukup untuk membangun satu rumah tanpa memerlukan bangunan tambahan,” ujar pengajar Jurusan Desain Interior, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), Universitas Sebelas Maret (UNS), Anung B. Studyanto, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Anung menjelaskan keberadaan paviliun merupakan salah satu ciri dari bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Kendati begitu, dia mengakui, sejauh ini dia belum menemukan kajian yang lebih mendalam terhadap bangunan rumah tambahan di samping rumah induk tersebut. Menurut Anung, bangunan rumah paviliun saat ini hanya diminati kalangan pemilik rumah yang memiliki lahan luas. Fungsi paviliun pada saat ini juga lebih majemuk jika dibandingkan pada zaman dahulu yang hanya digunakan sebagai tempat tinggal rewang.

“Paviliun sekarang ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi berfungsi juga sebagai tempat kegiatan ekonomi seperti salon, ruang kerja, ruang praktik dokter maupun penyalur hobi seperti senam atau studio musik,” paparnya.

Pakar arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Alpha Febela, mengatakan di sejumlah bangunan kuno di kompleks Kampung Batik Laweyan juga masih terdapat bangunan paviliun yang berdiri tak jauh dari rumah induk. Menurutnya, paviliun di Kampung Batik Laweyan biasa dihuni oleh keluarga kecil yang belum bisa hidup mandiri. “Keluarga kecil ini masih tinggal bersama orang tuanya dalam satu kompleks karena belum memiliki rumah sendiri,” ungkapnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Eksterior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS