20140615_pendapa_tampak_depan

Desain Rumah: Perpaduan Arsitektur Solo dan Kudus yang Antik

2040 Kali

normal_20140615_bale_bale_depan_rumahRumah itu adalah prasasti. Dengan desain unik, rumah tidak akan lekang oleh waktu. Karena dibuat dengan konsep tahan lama, saya berharap rumah ini bisa dikenang oleh anak-cucu saya kelak.” Demikian pernyataan Suryo Ratriyanto, 37, saat ditanya Rumah190.com ikhwal rumah antiknya yang berdiri di Dusun Ngendo, Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Sentuhan arsitektur khas Kudus begitu kentara pada bagian gapura masuk rumah dan bagian pendapa. Pendapa rumah itu dipenuhi dinding ukiran khas Kudus. Ciri khas lain adalah di bagian atap pendapa dan gapura masuk rumah. “Sebagian kayu dari pendapa itu saya datangkan dari Solo. Sebelum didirikan di Solo, pendapa itu dibedhol dari Baturetno, Wonogiri,” ujar pria yang sudah turun temurun menggeluti usaha tenun handuk ini.

Rumah Suryo dibangun beberapa tahun lalu. Proses finishing pembangunan rumah yang berdiri pada lahan seluas 2.000 meter tersebut sebetulnya belum selesai. Hingga kini, Suryo masih menata bagian interior rumahnya. Hampir 75% dari luas tanah yang berada di area persawahan itu sudah didirikan bangunan yang terdiri dari tiga bagian. Bagian depan rumah terdapat pendapa khas Kudus yang biasa difungsikan untuk tempat pertemuan keluarga atau rapat RT.

Pada bagian langit-langit terdapat ukiran tumpangsari yang terdiri atas tiga tingkatan atau undakan. Jumlah tingkatan dalam tumpangsari tersebut disesuaikan dengan jumlah buah hati yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. “Kalau suatu saat saya punya anak lagi, saya juga berencana menambah tingkatan tumpangsari-nya,” paparnya.

Di belakang pendapa terdapat area parkir dengan desain unik. Atap area parkir yang terbuat dari seng itu membentuk sudut sempit pada bagian atas sehingga menghadirkan kemiringan permukaan atap yang cukup tajam. Selain digunakan untuk parkir, di situ didirikan musala yang terbuat dari gebyok. Semula, gebyok yang dibeli dari pedagang barang antik itu berbentuk memanjang. Namun, bentuknya berhasil disulap menjadi dinding musala. Pada bagian belakang area parkir terdapat rumah dengan desain ala rumah kayu Eropa.

Desainnya memang mengadopsi model rumah kayu Eropa. Tetapi, kami mengaplikasikan desain itu menjadi rumah tembok dua lantai berukuran 11 m x 16 m x 12 m. Kami tetap memberi sentuhan adat Jawa terutama model ukiran khas Kudus,” papar suami dari Ari Widayati, 36, ini.

Tidak hanya menggunakan sentuhan khas Kudus dan Eropa, rumah milik pria penyuka motor gede (moge) itu memakai sentuhan khas Bali. Sentuhan itu terletak pada desain pagar batu bata yang dibangun mengelilingi rumah tersebut. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS