Rumah Bambang Wirawan Rumah Bambang Wirawan

Desain Rumah: Rumah Kayu di Tengah Kota

486 Kali

Rumah adat Jawa murni biasa identik dengan lahan yang luas. Namun, tidak demikian halnya dengan rumah milik Bambang Wirawan, 52, yang beralamat di Jl. Tirtosari No. 27, Purwonegaran, Solo. Rumah yang terdiri atas dua pendapa di bagian depan dan belakang itu hanya berdiri pada lahan seluas sekitar 150 meter persegi.

Kendati berdiri pada lahan yang tidak terlalu luas, rumah itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki rumah-rumah di sekelilingnya. Saat para tetangganya berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan mewah dan megah dengan tembok yang kokoh, pria yang berprofesi sebagai seniman itu justru membangun rumah berdinding kayu.

Di perdesaan, rumah berdinding kayu memang masih banyak dijumpai, namun rumah ini relatif sulit ditemui di kawasan perkotaan yang banyak berdiri gedung-gedung bertingkat. “Dari sisi keamanan memang dinding beton lebih memadai. Namun, dinding kayu memiliki keistimewaan tidak membuat suhu dalam rumah menjadi panas. Siang atau malam, rumah ini terasa adem karena dibuat menggunakan bahan alami,” ujar Bambang, beberapa waktu lalu.

Rumah Bambang tidak memiliki pelataran seperti halnya rumah adat Jawa pada umumnya. Bagian depan rumah berbatasan langsung dengan jalan perkampungan. Bagian teras rumah dibuat dari pendapa yang dibedol dari kawasan Gunung Wijil, Sukoharjo. Sebuah pintu utama masuk rumah yang terbuat dari ukiran kayu menyita perhatian siapapun pengunjung yang datang. Ukiran dengan pahatan khas dari daerah Pantura itu menjadi point of interest di bagian teras rumah. Ukiran pada pintu utama itu diberi warna emas dan hijau. Pintu itu menggunakan kunci manual berupa palang kayu yang hanya bisa digunakan untuk mengunci dari dalam. Bambang sengaja menambahkan kunci pabrikan supaya bisa dikunci dari luar ketika ingin bepergian.

Pintu dengan ukiran khas daerah Pantura itu menjadi partisi antara pendapa bagian luar dan pendapa bagian dalam. Pintu masuk dan pendapa bagian dalam itu juga didatangkan Bambang dari daerah Sukoharjo. Konon, pendapa tersebut semula milik seorang wedana atau pimpinan kawedanan yakni seorang pembantu bupati yang membawahi beberapa camat. “Pemiliknya ingin membangun rumah permanen sehingga pendapa itu dijual kepada saya. Saya lalu membawa pendapa itu dan mendirikannya di sini pada 2000 lalu,” papar Bambang.

Kondisi pendapa itu pada awalnya tidak terawat. Usianya diperkirakan mencapai satu abad. Pendapa itu dibuat dengan menggunakan alat pertukangan yang masih sederhana. Permukaan empat sakaguru masih kasar karena dikerjakan dengan alat tradisional seperti pethel dan kapak. Pada bagian atas pedapa itu terdapat limasan dengan tiga tingkatan. “Pendapa ini dibuat tanpa menggunakan paku. Semua strukturnya menyambung. Kalau terjadi gempa, rumah pendapa relatif lebih aman karena hanya bergoyang. Jadi, konsep rumah tahan gempa sebetulnya sudah dikenalkan nenek moyang kita,” tambah Bambang. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS