ruang tengah Ndalem Mloyokusuman ruang tengah Ndalem Mloyokusuman

Desan rumah: Ndalem Mloyokusuman Kediaman Empu

574 Kali

 

normal_20140914_asale

Rumah tradisional itu dibangun di tanah seluas 6.666 meter persegi seperti jumlah ayat dalam kitab suci Alquran. Konon, tanah itu dibeli oleh Paku Buwono (PB) II pada 1745 seharga 10.000 keping emas. Rumah itu kini sudah berusia sekitar 250 tahun. Usia bangunan yang tak lagi muda itu membuatnya masuk kategori heritage atau warisan cagar budaya. Bukan sekadar faktor usia, serentetan sejarah yang terjadi di dalamnya menjadikan rumah tua itu serasa lebih istimewa dari sekadar bangunan tua pada umumnya.

Ndalem Mloyokusuman milik putra PB IX bernama GPH Mloyokusumo. Dia adalah adik PB X, namun dari lain ibu. Dia adalah seorang empu atau pembuat keris yang dimiliki Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sampai sekarang, bekas bangunan yang biasa digunakan untuk menempa keris masih bisa ditemukan di belakang rumah sebelah kanan dengan kondisi yang tidak terawat.

Layaknya bangunan berarsitektur Jawa, Ndalem Mloyokusuman memiliki empat ciri khas seperti pendapa, pringgitan, ndalem dan gandok bisa ditemukan di rumah ini. Namun, ada hal lain yang membedakan Ndalem Mloyokusuman dengan rumah-rumah bangsawan Keraton pada umumnya. “Pendapa rumah ini sangat spesial. Bila pada umumnya sebuah pendapa memiliki empat saka guru [pilar utama sebagai penyangga], pendapa ini memiliki delapan saka guru. Saya belum menemukan di tempat lain. Ndalem Sasono Mulyo dan Ndalem Purwodiningratan saja hanya memiliki empat soko guru,” ujar Dewi  Salindrastuti Sunaryo Putri, 53, cucu GPH Mloyokusumo, saat ditemui Espos di rumah yang berada di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, beberapa waktu lalu.

Delapan saka guru pendapa memiliki ketebalan sekitar 45 cm dan dibuat dengan cara tradisional. Permukaan pilar itu masih kasar karena dikerjakan dengan alat tradisional seperti pethel dan kapak.

Jika ditinjau dari aspek tata ruang, tipe bangunan, elemen serta bahan bangunan, Ndalem Mloyokusuman merupakan produk arsitektur era tradisional Jawa murni. Di sekeliling rumah terdapat bangunan paviliun yang selama ini identik dengan bangunan peninggalan zaman kolonial. “Rumah ini berbentuk simetris. Bangunan tambahan [paviliun] yang berlokasi di sebelah kanan maupun kiri bentuknya sama,” tandas Dewi.

Pada bagian ndalem yang berlokasi di belakang pringgitan pada awalnya terdapat sebuah krobongan yang dahulu digunakan sebagai tempat berdoa atau semedi. Krobongan merupakan salah satu elemen dalam rumah adat Jawa murni yang bersifat sakral. Namun, oleh ayah Dewi, Mloyomiluhur, krobongan itu akhirnya dibongkar. “Ada kesan seram dan sakral. Daya magic-nya sangat kuat. Itu alasan di balik pembongkaran krobongan,” paparnya.

Salah satu hal yang membuat Ndalem Mloyokusuman terasa istimewa adalah adanya makam Ki Gede Sala yang berlokasi di belakang rumah sebelah kiri. Ki Gede Sala selama ini dikenal sebagai cikal bakal pendiri wilayah bernama Sala yang kini disebut Solo. Setahun sekali, Makam Ki Gede Sala selalu diziarahi jajaran Pemerintah Kota Solo dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Solo. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS