Panorama belasan gedung bertingkat di salah satu sudut Jakarta (Antara/dok) Panorama belasan gedung bertingkat di salah satu sudut Jakarta (Antara/dok)

DINAMIKA PERKOTAAN: Menakar Dampak Gedung Tinggi

468 Kali

RUMAH190.COM-Sejak gedung pencakar langit itu berdiri, kami merasa waktu siang hari lebih pendek. Dulu pukul 07.00 WIB sudah bisa menjemur pakaian. Sekarang harus nunggu di atas pukul 10.00 WIB untuk sekadar menjemur pakaian.” Demikian pernyataan Arif Nuryanto, 35, salah seorang warga Kampung Tegalrejo, Sondakan, Laweyan, yang tak jauh dari Stasiun Purwosari, Solo, beberapa waktu lalu.

 

Gedung pencakar langit yang dibangun beberapa tahun lalu itu jaraknya relatif dekat dengan tempat tinggal Arif. Bahkan, rumah dengan gedung setinggi 24 lantai itu hanya dipisahkan sebuah gang sempit. “Tekanan angin di bawah gedung juga terasa lebih tinggi. Karena terhalang oleh gedung, laju angin mengarah ke bawah dengan kencang. Hal itu membuat debu beterbangan dan membuat udara menjadi kotor,” ucapnya.

 

Memang Solo menjadi salah satu kota yang dikategorikan ramah investor. Iklim investasi di Kota Bengawan membuat investor rela menggelontorkan banyak uang untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Salah satu kawasan yang menjadi primadona di kalangan investor adalah Purwosari. Di sekitar Purwosari ada sekitar enam bangunan pencakar langit. Di antaranya Solo Center Point (SCP), Sala View, dan hotel di bekas Pabrik Es Saripetojo.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Solo Indro Sulistyanto yang menjadi rekanan Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo mengakui pembangunan gedung-gedung pencakar langit menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang kian pesat. Gedung-gedung itu menjadi bukti bahwa sektor riil terus bergerak. Namun, di sisi lain, keberadaan gedung-gedung pencakar langit itu berpotensi menghadirkan permasalah yang lebih kompleks.

 

Indro menyebut sebelum memberikan izin, Pemkot Solo terlebih dahulu meminta tim ahli bangunan untuk mengkaji layak tidaknya struktur bangunan itu berdiri. Selain dikaji dari segi arsitektur bangunan dan dampak lalu lintas, tim ahli juga memastikan jika pembangunan gedung itu tidak berbenturan dengan regulasi yang ada seperti aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Pada prinsipnya, setiap bangunan yang memiliki dampak kepada publik itu harus melalui kajian tim ahli bangunan terlebih dahulu sebelum Pemkot menerbitkan izin,” paparnya.

 

Sejauh ini, tim ahli bangunan sudah memberikan hasil kajian terhadap masing-masing rencana pembangnan enam gedung pencakar langit di Purwosari. Kendati begitu, tim ahli belum melakukan kajian dampak yang akan terjadi jika enam bangunan itu beroperasi secara bersamaan. “Sementara kajian kami masih parsial. Secara parsial, belum ada gangguan berarti. Kalau hanya satu gedung yang beroperasi, masalah lalu lintas yang crowded masih bisa diatasi. Tapi kalau enam gedung itu beroperasi secara bersamaan, kemungkinan akan menghadirkan masalah baru,” paparnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS