CEPAT -- Dinding yang lembab membuat jamur berkembang cepat, sehingga perlu segera ditangani. Pastikan dinding bebas jamur. (Dok) CEPAT -- Dinding yang lembab membuat jamur berkembang cepat, sehingga perlu segera ditangani. Pastikan dinding bebas jamur. (Dok)

Dinding Lembab? Belajarlah dari Rumah Tempo Dulu

2950 Kali

 

RUMAH1

90.COM — Masyarakat zaman dulu sebenarnya secara tradisional sudah menguasai teknik bangunan berkualitas tinggi. Ketika semen belum dikenal, bubuk batu bata halus berfungsi sebagai semen. Struktur bangunan dengan perekat bubuk batu bata pun cukup kuat meskipun daya kedap airnya kurang baik.

Arsitek Solo, Paulus Mintarga, beberapa waktu lalu, mengatakan kelembaban sering terjadi pada bangunan lama yang masih menggunakan bubuk batu bata sebagai perekat material. Namun, pada bangunan modern sekarang, menurut Paulus, mestinya tidak ditemukan kelembaban dinding rumah karena ada semen yang memiliki tingkat kekedapan lebih kuat dibandingkan bubuk batu bata.

“Ketika masih ada bercak-bercak pada dinding, bukan murni karena lembab tapi bisa disebabkan kadar asam yang terlalu tinggi pada semen. Orang dulu menggunakan cairan batu kapur atau gamping untuk menetralisasi keasaman pada semen sehingga tidak muncul bercak-bercak pada dinding. Sekarang juga ada cat yang berfungsi untuk menetralisasi keasaman semen atau air,” tambahnya.

Keasaman semen merupakan salah satu penyebab khusus munculnya bercak-bercak dinding. Secara umum, bercak-bercak di dinding itu disebabkan oleh kelembaban karena air masuk melalui pori-pori dinding. Antisipasi yang paling efektif, kata Paulus, berupa teknik trasram, seperti yang disampaikan arsitek asal Gentan, Sukoharjo, Daris Fath. “Trasram itu istilah bahasa Belanda, yakni penggunaan campuran semen dan pasir dengan kualitas baik. Bila perlu dipasang aspal di bagian atas fondasi atau sloop, sehingga air tanah yang merembes bisa tertahan,” kata Paulus.

Daris Fath menerangkan secara detail tentang teknik trasram. Bila pada campuran biasa, perbandingan semen dan pasir bisa 1:7-8, maka dalam teknik trasram, terang dia, perbandingan semen dan pasirnya bisa 1:3. Artinya satu ember semen dicampur dengan tiga ember pasir.

Di samping teknik itu, Daris menyarankan adanya pertimbangan jarak lantai, termasuk ketinggian lantai. Secara horizontal, jarak lantai rumah harus mengikuti jarak ideal garis sempadan bangunan (GSB), yakni 4-6 meter dari selokan depan rumah. Sementara jarak vertikal atau ketinggian lantai ditentukan berdasarkan tingkat kejenuhan tanah. Setiap daerah memiliki tingkat jenuh air tanah yang berbeda.

“Untuk lebih amannya, dinding luar yang bersentuhan dengan air hujan dilapisi cat waterproof. Lapisan keramik pada dinding sebenarnya tidak menjamin bisa mengatasi kelembaban dinding. Yang paling efektif, ya, dengan teknik trasram itu,” pungkasnya. (Tri Rahayu/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS