JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu
Mingguan-Griya-Gebyog Lumbung Gading Gebyog Ukir Jl Veteran, Tipes Solo, JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Mingguan-Griya-Gebyog Lumbung Gading Gebyog Ukir Jl Veteran, Tipes Solo,

Gebyok, Keindahan Pembatas Ruang Khas Jawa

3046 Kali

RUMAH190.COM—Gebyok adalah semacam partisi khas jawa yang digunakan untuk sekat antar ruang. Gebyok biasanya memiliki ukiran khas jawa dan dibuat dari kayu bermutu tinggi seperti kayu jati. Kualitas gebyok dikatakan baik atau tidak tergantung pada jenis kayu yang digunakan, tingkat kerumitan ukiran atau ornamen dekorasinya serta ukuran gebyok. Daya tarik gebyok terutama ditentukan oleh keindahan detail ukirannya, partisi ini memang khas dan memiliki nilai estetika yang tinggi karena sangat unik dan tidak bisa ditemukan ditempat lain selain di Pulau Jawa.

Salah seorang pembuat hunian unik, Hari Purnomo, mengatakan gebyok awalnya berasal dari Kudus dengan motif khas berupa ukiran teratai. Saat Islam datang, Sunan Kudus yang mendakwahkan Islam ke Kudus melakukan modifikasi motif menjadi melati. Melati itu kecil, tetapi memiliki bau yang harum, demikian maknanya.

Pada zaman dahulu gebyok hanya dimiliki oleh kalangan berada. Namun seiring berjalannya waktu, gebyok menyebar ke penjuru Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Variasi motifnya juga bertambah dan kepemilikannya tak terbatas pada orang kaya. Bahkan, rumah-rumah joglo khas Jawa Tengah menggunakan gebyok polosan alias minim ukiran.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Mingguan-Griya-Gebyog Lumbung Gading Gebyog Ukir Jl Veteran, Tipes Solo,

“Saat ini fungsinya adalah pemisah ruangan. Salah satunya adalah membatasi area publik seperti ruang tamu dengan ruang keluarga yang bersifat privat,” terang alumnus Jurusan Teknik Sipil Univesitas Sebelas Maret (UNS) itu, belum lama ini.

Pemilik Lumbung Gading Ukir, Yano Ariansyah Akbar, 29, mengatakan filosofi gebyok tergantung dari motif pakem yang bersumber dari keraton yang menjadi rujukan. Motif tersebut sebenarnya adalah menyesuaikan kasta atau tingkat jenjangnya dalam masyarakat.

Fungsi awal gebyok adalah sebagai pintu dan penyekat, pengganti tembok dan pintu. Seiring berjalannya waktu, fungsi itu berubah menjadi dekorasi interior/eksterior, sebagai pintu utama atau menjadi barang investasi yang hanya disimpan secara khusus karena harganya akan merangkak naik.

Lelaki yang memulai usaha jual-beli gebyok sejak empat tahun lalu itu menyediakan tiga jenis gebyok yaitu gebyok Jawa, gebyok Kudus dan gebyok baru atau modifikasi. Ketiga gebyok tersebut memiliki desain rangka, ukuran, motif dan bentuk keseluruhan yang berlainan.

Ia menjelaskan, gebyok Kudus memiliki kerangka yang digunakan relatif lebih tebal dengan motif ukiran yang lebih rumit. Pada gebyok Jawa,  kerangkanya relatif tipis dengan ukiran motif Jawa yang sederhana. Namun, untuk urusan kualitas kayu, gebyok Jawa biasanya lebih bagus. Sementara itu, gebyok baru atau modifikasi adalah gebyok yang keluar pakem, misalnya gebyok Jawa tetapi ditambahi corak ukir tertentu.

Ukuran ketiga jenis gebyok itu juga berbeda. Gebyok Kudus biasanya memiliki tinggi 2,7 meter dan lebar bervariasi yaitu 1,8 meter, 3 meter dan 4 meter. Gebyok Jawa memiliki lebar 2,2-3 meter dengan tinggi bervariasi yaitu 2,2-3 meter.

“Kalau gebyok modifikasi tergantung kebutuhan atau menyesuaikan bidang pada rumah. Contoh gebyok modifikasi adalah menggabungkan konsep gebyok Jawa dengan variasi kaca sebagai daun pintu,” terang dia saat berbincang di workshopnya yang terletak di Jl. Veteran No. 268, Tipes, Serengan, Solo.

Seluruh kayu yang menjadi bahan gebyok di Lumbung Gading Ukir adalah kayu jati. Ada tiga jenis jati yang tersedia yaitu jati baru, jati Perhutani dan jati bekas atau lawasan. Harga masing-masing gebyok bervariasi antara Rp1,5 juta sampai Rp35 juta tergantung motif, ukuran dan jenis kayu. (Ivan Andimuhtarom)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS