Moh. Khodiq Duhri Gedung Lama Bank Indonesia (BI) Solo Moh. Khodiq Duhri Gedung Lama Bank Indonesia (BI) Solo

Gedung B, Cantik, Megah, Juga Bersejarah

466 Kali

Kalau kita menyusuri Jl. Jenderal Sudirman Solo, mulai dari Bundaran Gladak, terasa betul nuansa kemegahan di kawasan itu. Ada Benteng Vastenburg di sebelah kanan dan di sebelah kiri pandangan akan tertumbuk pada gedung megah bergaya neoklasik Eropa.

Itulah gedung lama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo. Dikutip dari buku Sejarah dan Heritage Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo (2014), gedung de Javasche Bank Agentschap Soerakarta [secara harfiah bisa diartikan Bank Jawa Kantor Cabang Surakarta] dibangun di atas tanah yang dibeli dari Ny. De Kock van Leeuwen pada 1868. Ia tak lain adalah istri dari administratur pabrik gula bernama Jan Adriaan Carel de Kock van Leeuwen. Tepat tanggal 10 November 1908, pembangunan gedung baru de Javasche Bank Agentschap Soerakarta dimulai untuk menggantikan bangunan lama. Gedung itu adalah bangunan pertama de Javasche Bank yang didirikan bukan di kawasan pesisir atau kota pelabuhan.

Pembangunannya dilakukan oleh Biro Arsitektur Hulswiit Fermont en Ed. Cuypers dan resmi digunakan 1 Agustus 1910. Gedung ini dibangun dengan dinding berkerangka tulang besi yang kuat. Seperti gaya neoklasik pada umumnya, pintu maupun jendela menggunakan model melengkung setengah lingkaran, pada bagian atap terdapat kubah dan terdapat fasad berbetuk segitiga. Gedung ini juga memiliki ruang bawah yang dirancang untuk menyimpan uang, barang atau surat-surat berharga. Ruang bawah tanah itu juga digunakan untuk menyimpan arsip dan pengepakan uang. Lantai pertama digunakan sebagai perkantoran lantai atas digunakan sebagai kediaman pejabat pemimpin cabang.

Setelah proklamasi kemerdekaan, melalui UU No. 24/1951, pemerintah menasionalisasi de Javasche Bank setelah membeli 97% sahamnya dari tangan Belanda. Seiring berdirinya Bank Indonesia sebagai bank sentral pemegang otoritas moneter gedung ini pun mengalami perubahan fungsi dan menjadi kantor perwakilan Bank Indonesia.

Sepanjang sejarah penggunaannya gedung ini berulang kali mengalami peremajaan seperti pada 1939, 1958, 1961 dan 2008 dan 2014. Dalam peremajaan terakhir unsur dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, sejarawan, akademisi, dan Pemkot Solo, juga dilibatkan.

“Kami mengganti infrastruktur yang rusak seperti pipa besi, talang, engsel, mengganti lampu, mengecat ulang dan lain sebagainya. Kami harus menggunakan cat yang sudah direkomendasikan Balai Pelestarian Cagar Budaya. Pada prinsipnya, peremajaan itu tidak mengubah, memotong atau menghilangkan bentuk asli bangunan. Kami berharap langkah ini bisa diikuti oleh lembaga lain demi menyelamatkan benda cagar budaya,” kata Kepala Unit Sumber Daya, Kantor Perwakilan BI Solo, Baskoro, saat ditemui Rumah190.com di kantornya, belum lama ini. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Eksterior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS