Susunan ubin bermotif hasil kerajinan tangan terpasang di lantai pendapa rumah milik Nunuk Suparni, 62, di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, Solo. (JIBI) Susunan ubin bermotif hasil kerajinan tangan terpasang di lantai pendapa rumah milik Nunuk Suparni, 62, di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, Solo. (JIBI)

Interior Rumah Klasik, Cita Rasa Tionghoa dan Islam

1202 Kali

pendapa1

Susunan ubin bermotif hasil kerajinan tangan terpasang di lantai pendapa rumah milik Nunuk Suparni, 62, di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, Solo. (JIBI)

Pintu utama memasuki pendapa rumah Nunuk Suparni di Jl. Panular 9, Panularan, Laweuan, Solo (foto atas). Susunan ubin bermotif hasil kerajinan tangan rumah milik Nunuk . (JIBI)

 

Pendapa rumah milik Nunuk Suparni, 62, menggunakan tumpangsari yang ditopang empat pilar saka guru. Tumpangsari merupakan susunan balok kayu menyerupai piramida yang banyak dihiasi ukiran menawan. “Kebetulan [tumpangsari] itu terdiri atas lima susunan balok kayu,” kata Nunuk saat ditemui Rumah190.com di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Di dalam pendapa rumah itu terdapat empat lemari dengan model unik. Dua di antaranya merupakan lemari koleksi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang diproduksi ulang. Produksi ulang lemari itu sengaja dibuat saat kompleks Keraton mengalami kebakaran hebat beberapa tahun silam. “Kebetulan reproduksi lemari itu dipesan pihak Keraton kepada teman saya sendiri. Jadi begitu dikabari ada dua buah lemari yang tersisa, saya langsung membelinya. Kendati barang repro, sebagian bahan untuk membuat lemari ini terbuat dari kayu yang sudah kuno, sisa kebakaran Keraton,” jelasnya.

Pendapa rumah itu kini berfungsi sebagai tempat usaha batik yang sudah digeluti Nunuk selama bertahun-tahun. Selain itu, rumah itu juga berfungsi sebagai tempat pertemuan keluarga dan teman-temannya. Pada bulan Ramadan, pendapa rumah itu biasa difungsikan sebagai tempat Salat Tarawih berjamaah, tadarus dan menyimak hafalan Alquran.

Pakar interior rumah adat dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Rahmanu Widayat, mengungkapkan model ukiran di Kudus memiliki kesamaan dengan model ukiran di Demak dan Jepara.  Menurutnya, model ukiran di daerah pesisir utara pulau Jawa lebih banyak dipengaruhi budaya Tionghoa. Selain berdagang, kedatangan bangsa Tionghoa ke Tanah Air itu juga turut memberi sentuhan pada gaya ukiran di kawasan pesisir utara. “Tidak hanya bangsa Tionghoa, model ukiran ini juga dipengaruhi budaya Islam,” kata Rahmanu. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS