Contoh perapian yang menjadi point of interest pada living room yang sudah populer sejak awal abad ke-16. (peerflix.com) Contoh perapian yang menjadi point of interest pada living room yang sudah populer sejak awal abad ke-16. (peerflix.com)

Interior Rumah: Ruang Keluarga Penghangat Hubungan

1079 Kali

Living room biasa diterjemahkan sebagai ruang keluarga. Disebut living room karena ruangan itu berfungsi sebagai tempat interaksi kehidupan sosial. Baik itu interaksi antara anggota keluarga atau dengan tamu yang datang.

Lantaran berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, penataan living room tidak boleh asal. Siapa sangka, kerenggangan hubungan sosial atau keakraban di lingkungan keluarga bisa bersumber dari penataan living room yang asal-asalan. “Pada prinsipnya, penataan living room harus bisa menghadirkan interaksi hangat antara dua orang atau lebih. Interaksi itu bisa hadir jika tempat duduk bisa tertata dengan baik. Dalam hal ini, penataan tempat duduk model letter L atau letter U bisa menjadi alternatif,” kata pakar desain interior rumah dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Andi Setiawan, saat ditemui Espos di kantornya, beberapa waktu lalu.

Penataan tempat duduk model letter L atau letter U memungkinkan adanya interaksi sosial karena bisa saling berhadapan. Dia tidak merekomendasikan penataan tempat duduk itu dibuat berjajar seperti yang bisa ditemui di tempat antrean di tempat-tempat umum. Menurutnya, penataan tempat duduk yang berjajar tidak mendukung interaksi sosial baik dalam lingkungan keluarga atau dengan tamu. “Kalau tempat duduk dibuat berjajar, dialog keluarga jadi minim. Dikhawatirkan terjadi kerenggangan hubungan di lingkungan keluarga. Hal ini tentu tak boleh dibiarkan,” tambah Andi.

Selain harus menata tempat duduk dengan benar, living room sebaiknya dilengkapi point of interest atau pusat perhatian. Menurut Andi, point of interest dalam living room selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Di Eropa dan Amerika misalnya, sejak ratusan tahun yang lalu point of interest itu berupa perapian. Bahkan hingga kini meski perapian kayu sudah digantikan alat pemanas, posisinya masih sering digunakan sebagai dekorasi. “Seiring berjalannya waktu, point of interest itu sudah tergantikan dari perapian menjadi piano. Keberadaan perapian sudah tergantikan oleh penghangat ruangan yang lebih modern. Lambat laut, point of interest itu sudah tergantikan oleh radio kemudian televisi,” papar Andi.

Keberadaan televisi sebagai point of interest, lanjut Andi, mampu bertahan hingga sekarang. Sayangnya, keberadaan televisi sebagai point of interest justru merusak tatanan konsep living room yang sudah bertahun-tahun ada. “Keberadaan televisi telah mengubah penataan tempat duduk dari letter L atau letter U menjadi garis lurus [letter I]. Tidak ada interaksi karena pandangan terfokus pada televisi. Komunikasi sosial keluarga menjadi berkurang. Karena dialog keluarga minim, terjadilah kerenggangan hubungan keluarga,” jelasnya.

Bagi kalangan desainer yang memiliki idealisme tinggi, sambung Andi, keberadaan televisi sudah tidak difungsikan sebagai point of interest. Mereka lebih memilih perpustakaan mini untuk menggantikan televisi. Melalui perpustakaan mini itu, desainer ingin mengfungsikan kembali living room sebagai tempat interaksi sosial. “Namun, persentase orang yang menggunakan perpustakaan mini sebagai point of interest itu sangat sedikit,” tambahnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS