Gabungan foto dari kiri, Ubin bermotif pada lantai, Jendela khas model Indisch, Bagian dalam Ndalem Sasono Mulyo, Bagian samping Ndalem Lodjen Sasono Mulyo, Ruang duduk. Gabungan foto dari kiri, Ubin bermotif pada lantai, Jendela khas model Indisch, Bagian dalam Ndalem Sasono Mulyo, Bagian samping Ndalem Lodjen Sasono Mulyo, Ruang duduk.

Lodjen Sasono Mulyo, Cikal Bakal ISI Solo

362 Kali

Setelah naik takhta pada 1945, Paku Buwono (PB) XII tak lagi tinggal di Ndalem Lodjen Sasono Mulyo. Bangunan rumah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi sempat sempat dibiarkan kosong selama sekitar 20 tahun.

Bangunan rumah itu lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan seni dan kebudayaan. Rumah itu sempat dijadikan Kantor Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) yang kemudian menjadi cikal bakal dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada era 1970-an. ASTI bergabung dengan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Sejak September 2006, lembaga pendidikan seni dan budaya itu resmi berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

“Ndalem Lodjen Sasono Mulyo ini sempat digunakan sebagai rumah Direktur ASTI yang kedudukannya setara rektor di perguruan tinggi sekarang,” ujar pemilik Ndalem Lodjen Sasono Mulyo, G.P.H. Dipokusumo.

Setelah lembaga itu pindah lokasi, Ndalem Lodjen Sasono Mulyo kembali kosong. Baru pada pertengahan 2000, G.P.H. Dipokusumo, putra ke-18 dari PB XII ini mengajak keluarganya tinggal di rumah yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya itu. Dipokusumo mengakui kondisi Ndalem Lodjen Sasono Mulyo sebelum ditempatinya sangat tidak terawat. Oleh sebab itu, dia memugar bangunan rumah itu dengan mempertahankan bentuk aslinya. “Renovasi itu sifatnya konservasi. Saya juga menambahkan mebel-mebel karena semula hanya berupa ruangan kosong. Namun untuk pintu, lantai, plafon, dan lain sebagainya sampai saat ini masih asli,” ungkapnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS