Lodjen Sasono Mulyo Lodjen Sasono Mulyo

Lodjen Sasono Mulyo, Rumah Putra Mahkota

434 Kali

Sebagian besar rumah kuno di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dibangun dengan sentuhan gaya arsitektur Jawa murni. Namun, rumah yang berlokasi tepat di samping sebelah barat Ndalem Sasono Mulyo ini justru dibangun dengan sentuhan gaya arsitektur berbeda. “Rumah ini tidak bergaya arsitektur Eropa, tetapi juga tidak bergaya arsitektur Jawa. Orang-orang menyebutnya dengan istilah rumah indisch [perpaduan sentuhan gaya arsitektur khas Eropa dan nusantara],” ujar G.P.H. Dipokusumo, pemilik rumah itu, beberapa waktu lalu.

Rumah itu sebetulnya adalah paviliun dari Ndalem Sasono Mulyo. Bila pada umumnya paviliun dibangun lebih sederhana daripada bangunan utama, berbeda halnya dengan rumah yang biasa disebut Ndalem Lodjen Sasono Mulyo ini. Rumah yang dibangun pada akhir abad ke-18 itu dibangun “cukup serius” dan bahkan bersaing dengan bangunan utama. Alasannya, Ndalem Lodjen Sasono Mulyo merupakan tempat tinggal beberapa pangeran pewaris takhta kerajaan. “Sebelum diangkat menjadi raja, tempat tinggal PB [Paku Buwono] XI di sini. Demikian pula putra tertuanya, PB XII yang lahir dan dibesarkan di rumah ini. Sementara putra PB IV yang naik tahta menjadi PB VII juga sempat tinggal di Ndalem Sasono Mulyo,” papar pria yang biasa dipanggil Gusti Dipo ini.

Sebagai paviliun, terdapat bangunan kecil yang menghubungkan Ndalem Lodjen Sasono Mulyo dengan Ndalem Sasono Mulyo. Dengan begitu, dua bangunan rumah itu sebetulnya tidak bisa dipisahkan. Selain tempat tinggal, Ndalem Sasono Mulyo yang diperkirakan dibangun pada 1811 itu juga difungsikan untuk menggelar upacara perkawinan kerabat Keraton, tempat menyemayamkan jenazah keluarga serta tempat kegiatan kebudayaan.

Berbeda dengan Ndalem Sasono Mulyo yang memiliki banyak fungsi, Ndalem Lodjen Sasono Mulyo hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Perbedaan menyolok juga terletak pada tata ruangnya. Ciri khas bangunan adat Jawa seperti pendapa, pringgitan, ndalem dan gandok yang bisa ditemukan di Ndalem Sasono Mulyo tidak ditemukan di Ndalem Lodjen Sasono Mulyo. “Ciri khas bangunan indische paling menonjol salah satunya adalah tata ruangnya yang menggunakan standar Eropa. Di sini ada living room, dining room, dapur dan lain-lain yang memiliki tipe hampir sama dengan rumah-rumah minimalis saat ini,” tandas Dipokusumo.

Plafon Ndalem Lodjen Sasono Mulyo menggunakan seng. Sementara bagian lantainya menggunakan ubin bermotif. Pintu dan jendela rumah itu bergaya khas indisch dengan model garis-garis horizontal. Pada bagain atas pintu dan jendela terdapat lubang ventilasi yang terbuat dari ukiran kayu. Namun, motif ukiran tersebut bukan murni mengadopsi gaya khas Nusantara melainkan mendapat sentuhan khas Eropa berupa relief mahkota. Ukiran kayu bermotif floral juga bisa ditemukan pada ornamen lisplang pada bagian teras rumah. Lisplang bagian ujung teras rumah itu terdapat papan kayu menyerupai jarum yang dipasang vertikal sehingga terlihat kesan klasiknya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS