JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

Marakez Kafe, Kombinasi Kolonial-Arab

1450 Kali

RUMAH190.COM—Bangunan yang berada di Jl. Untung Suropati No. 76, Solo itu dicat dengan warna putih. Bentuknya mirip dengan bangunan bergaya kolonial yang cenderung berbentuk kotak dengan tinggi lebih dari 3 meter. Namun, setelah melihat ke dalam, nuansa bangunan Timur Tengah bisa dirasakan sangat kental. Ya, bangunan itu adalah Marakez Kafe.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

Pintunya yang menghadap ke barat dicat dengan warna putih dengan dua daun pintu. Masuk ke dalam, ada ruang berukuran sekitar 4×3 meter. Sejatinya, ruangan itu adalah ruang tamu. Namun, kini sudah dimodifikasi sebagai ruang tunggu kafe.

Di sebelah timur ruangan tersebut terdapat ruangan yang lebih besar serta kamar mandi dalam. Kini, ruangan itu difungsikan sebagai musala. Padahal, dulunya, ruang itu adalah ruang tidur untuk tamu. Empat buah kaligrafi Hendra Buana yang dibikin pada 2006 terpampang pada dinding ruangan itu.

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Pada ruang tamu, terdapat pintu dengan dua daun pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang utama di gedung yang konon sudah berusia lebih dari setengah abad tersebut. Namun, daun pintunya sudah dilepas untuk menyesuaikan dengan konsep kafe dan resto. Seketika, pandangan mata akan tertuju pada lantai bernuansa klasik
berwarna hijau dengan ornamen warna kuning dan putih khas Timur Tengah. Lantai itu mirip dengan lantai Masjid Agung Surakarta. Berbagai pelat nomor kendaraan dari negara-negara Arab juga menghiasai salah satu sudut dinding di ruang itu.

JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

Pada sisi kiri ruang utama terdapat tiga kamar. Salah satunya dimanfaatkan sebagai jalsah, ruang untuk bersantai. Pada bagian depan pintu terdapat rumbai string yaitu rumbai rumbai dari kain rajut yang makin mengentalkan nuansa Arab.

Di dalam ruang jalsah ada tempat duduk  seperti amben [dipan dalam bahasa Jawa] dengan busa empuk dan meja di tengah jalsah itu. Sebuah sisha, alat hisap khas Timur Tengah berada pada salah satu sudut ruangan. Tak lupa, televisi dan perlengkapan audio komplet juga disediakan di sana.

“Itu ruangan privat di dalam ruangan bagi keluarga Arab. Bisa juga untuk rekanan dan orang dekat,” ujar pemilik Marakez Kafe, Husni Baradja.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

Beberapa ornamen khas Timur Tengah juga dihadirkan di kafe tersebut. Sebut saja lampion yang ditempelkan pada dinding. Lampion itu terbentuk dari enam sisi kaca dengan frame dari besi warna hitam dof. Bagian atas lampion terhubung dengan rantai besi yang dikaitkan pada besi panjang dan menempel pada dinding. Selain itu terdapat beberapa
lampion gantung berukuran sebesar bola basket pada bagian tengah ruang utama.

“Lampion sebenarnya juga ciri khas Timur Tengah. Tapi ada sebagian orang yang menganggap lampion lebih identik dengan budaya China,” ujar Husni.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu MINGGUAN - GRIYA Marakez Kafe

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

Di bagian belakang rumah terdapat bustan atau taman luas untuk bersantai. Dua pohon mangga merindangi hampir keseluruhan bagian itu. Keberadaan taman di belakang untuk bangunan timur tengah menyuratkan filosofi hijab, yaitu menjaga aurat. Artinya, penghuni rumah khususnya perempuan bisa bersantai tanpa terekspose orang luar.

Secara umum, bentuk bangunan Marakez Kafe adalah bangunan zaman Belanda dengan tata ruang sesuai budaya Timur Tengah. Husni mengakui bangunan itu sudah dimodifikasi dengan tema perfect blend of middle eastern and western cuisine. Misalnya ada bar dan pajangan dinding yang identik dengan western. (Ivan Andimuhtarom)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS