solusiproperti.com solusiproperti.com

Memanfaatkan Lorong Rumah

1951 Kali

RUMAH190.COM Karena alasan keterbatasan, bentuk lahan hunian terkadang tidak lagi ideal. Misalnya berbentuk jajaran genjang, menyudut, atau memanjang ke belakang seperti sebuah lorong karena dengan permukaan yang sempit. Kondisi lahan yang tidak ideal tersebut bukan menjadi alasan untuk tidak membangun hunian di atasnya. Namun hal itu justru menjadi tantangan untuk berkreasi menyiasati hunian agar tetap nyaman.Misalnya dengan lahan yang memiliki muka hanya sekitar empat atau lima meter, tentu penempatan ruangnya akan berbeda dengan rumah dengan segi empat sama sisi.

Satu-satunya cara untuk menata ruangan-ruangan terhadap hunian yang memanjang semacam ini adalah dengan cara menempatkan ruangan-ruangan secara linier. Sebab, ruangan tidak mungkin ditempatkan secara berdampingan. Dengan penataan tersebut maka akses dari depan ke belakang juga berada di salah satu sisi saja.
Salah seorang perencana asal Solo, Taufik Hidayat, mengatakan perlu adanya perencanaan khusus untuk membuat desain rumah dengan model seperti ini. “Kalau lahannya tidak lazim, pasti harus ada perencanaan khusus,” kata dia beberapa waktu lalu.

Sementara itu, dosen Perencanaan Wilayah Perkotaan (PWK) Fakultas Teknik UNS, Solo Istijabatul Aliyah, menyatakan cara linier atau berurutan menjadi mutlak karena dengan lahan yang sempit ini tidak mungkin menempatkan dua ruangan secara berdampingan.

Dengan kebutuhan akan ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga dan ruang dapur, maka penempatannya adalah ruang tamu pada bagian depan. Disusul dengan ruang tidur, ruang keluarga, ruang tidur dan dapur. “Untuk rumah dengan lahan yang memanjang ke belakang, bentuk organisasi ruangannya biasanya ya linier dari depan ke belakang,” kata dia saat ditemui Espos di kediamannya di Karanganyar.

Selain itu, untuk penempatan ruangan tertutup, hindari urutan secara langsung. “Secara spasial, hindari ruangan massive yang berurutan karena lorong akan menjadi panjang,” imbuhnya.

Cahaya kurang

Selain itu, jelasnya, jangan menempatkan ruangan-ruangan dengan zig-zag karena hal tersebut akan menghabiskan banyak tempat. Penataan tersebut juga tidak efektif dan ruangan yang terbatas justru akan banyak yang terbuang percuma. “Jangan zig-zag sehingga tidak banyak ruangan terbuang untuk sirkulasi”.

Di sisi lain, pembuatan ruangan pada lahan dengan muka sempit dan memanjang seperti itu juga disesuaikan dengan kebutuhan. Bagaimana soal pengembangan bangunan? Isti mengatakan, satu-satunya pengembangan bangunan untuk rumah seperti ini adalah ke atas dengan membuatnya bertingkat. Sebab di kota-kota, biasanya lahan memanjang ini sudah berimpit dengan bangunan lain di kanan kirinya. “Kalau mau dikembangkan, mau tidak mau harus ke atas karena di sisi kanan atau kiri kan sudah tidak ada lahan lagi.”

Sementara itu, rumah dengan impitan bangunan di kanan kiri ini menyebabkan pencahayaan di dalam ruangan sangat kurang. Sebab cahaya yang masuk dari depan tak mampu menjangkau bagian belakang. Salah satu solusinya adalah menempatkan void atau bukaan di salah satu lorong atau ruangan.

Di sisi lain, jika rumah tersebut juga dijadikan tempat usaha, maka sebaiknya ditempatkan di lantai bawah, sedangkan hunian ditempatkan di lantai atas. Usahakan agar akses (tangga) menuju hunian ditempatkan terpisah/di luar agar tidak mengganggu aksesibilitas usaha. ( Akhmad Ludiyanto )

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS