Rumah juragan batik, Nunuk Suparni, di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, Solo. (JIBI) Rumah juragan batik, Nunuk Suparni, di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, Solo. (JIBI)

Membedol Rumah Klasik dan Unik

1356 Kali

Kesukannya kepada barang-barang antik memotivasi Nunuk Suparni, 62, memiliki rumah yang sesuai dengan hobinya tersebut. Untuk memuluskan hasratnya, juragan batik asal Panularan, Laweyan, Solo, itu berkelana mencari rumah adat Jawa yang masih terjaga orisinalitasnya alias klasik.

Pencariannya terhenti ketika dia menemukan sebuah rumah tua yang sudah puluhan tahun tak dihuni di daerah perbatasan Demak dan Kudus lima tahun silam. Nunuk benar-benar kepincut kepada rumah tua tersebut. Dia tidak peduli meski rumah tersebut sudah beralih fungsi menjadi sarang codot sekalipun.

Lantai rumah itu sudah terpendam tanah. Sebagian rusak parah, tapi sebagian masih bisa dimanfaatkan,” kata Nunuk saat ditemui Espos di rumahnya di Jl. Panular No. 9, Panularan, Laweyan, beberapa waktu lalu. Menurut cerita dari warga setempat, usia rumah tua itu sama dengan 13 kali pergantian lurah. Pada masa itu, seorang lurah bisa menjabat selama 8-10 tahun. Dengan begitu, usia rumah tua itu diperkirakan sudah mencapai 104 hingga 130 tahun. Setelah dibeli, rumah itu akhirnya dibedol dan dibawa ke Solo. Dia juga membedol rumah kuno lain yang lokasinya tak jauh dari rumah pertama. Setelah menyeleksi bagian-bagian rumah yang masih utuh, Nunuk lalu membangun rumah baru di kawasan Panularan. “Jadi, rumah ini itu gabungan dari tiga rumah. Dua rumah hasil bedolan dan satu rumah asli yang sebelumnya sudah dibangun di sini,” katanya.

Rumah istri almarhum H. Kartono tersebut berbentuk pendapa. Selain kayu, dinding rumah itu juga menggunakan bahan batu bata ekspos yang memiliki ciri khas warna merah dan berukuran lebih besar daripada batu bata biasa. Dinding batu bata itu sengaja tidak dilapisi plester supaya terlihat lebih natural. Dinding batu bata itu tersambung dengan dinding kayu jati yang dipenuhi ukiran khas Jepara.

Pendapa itu ditopang oleh empat pilar tiang kayu yang biasa disebut saka guru. Pada bagian tengah pendapa berukuran sekitar 12 meter x 12 meter itu terdapat tumpangsari atau susunan balok menyerupai piramida yang dihiasai banyak ukiran menawan. Pada dinding utama terdapat gebyog berukir yang memisahkan ruang utama dengan bagian sentong. Selain sudah berusia ratusan tahun, permukaan kayu itu masih berupa pahatan yang masih kasar. “Pada zaman dahulu belum ada pasah untuk menghaluskan permukaan kayu. Jadi kayu-kayu itu cuma dipahat saja sehingga terlihat kasar permukaannya,”  jelang Nunuk.

Keunikan lain pada rumah itu terletak pada umpak yang menopang saka guru. Pada umumnya umpak terbuat dari pahatan batu, namun umpak di rumah Nunuk terbuat dari kayu. Rumah ini juga menggunakan lantai dari bahan ubin hasil kerajinan tangan asal Jogja. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS