Prof Hermanu dan buku koleksinya (Arief Fajar S/JIBI) Prof Hermanu dan buku koleksinya (Arief Fajar S/JIBI)

Mengelola Rak Buku : Pengalaman Hermanu & Andrik Purwasito saat Koleksi Bertambah

403 Kali

Awalnya ada omongan teman bahwa kalau lulus, seorang sarjana minimal sudah punya koleksi 100 buku, kemudian lulus S2 paling tidak memiliki koleksi 500 buku. Koleksi buku pun jumlahnya terus bertambah seiring jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Itu yang saya alami, jadi ketika mahasiswa [kuliah di IKIP Jogja] memang sudah mengoleksi buku cukup banyak.  Termasuk koleksi jurnal yang didapatkan dari Toko Gramedia, koleksi terus bertambah setelah S3 dan sampai sekarang menjadi dosen di FKIP Universitas Sebelas Maret [UNS] Solo,” jelas Prof. Hermanu Joebagjo, Selasa (1/8).

Koleksinya Hermanu sampai saat ini lebih dari 2.000 buku. Buku-buku tersebut tentang politik, agama, sejarah, budaya, dan sosiologi. Ketika koleksi bukunya terus bertambah, Hermanu kewalahan menyimpan. “Awalnya istri saya sering marah-marah karena almari tidak mampu menampung buku-buku koleksi saya. Apalagi saya memang tidak menyiapkan ruang khusus untuk koleksi buku-buku itu,” ujar Hermanu.

Karena koleksi terus bertambah, Hermanu memilih menyimpan seperlima koleksi bukunya di kampus. Ada satu almari besar yang menjadi tempat koleksi bukunya, termasuk lemari besi di ruangan dan meja kerja yang menjadi sasaran menempatkan buku-buku.

Hermanu yang membuat disertasi Biografi Politik Paku Buwana X : Studi Gerakan Islam dan Kebangsaan di Keraton Surakarta ini mengatakan sampai saat ini kegemaran berbelanja buku tak terbendung. Apalagi lewat online, dia bisa mendapatkan buku-buku lama. “Saya punya keinginan membuat lembaga pendidikan di mana di tempat itu ada perpustakaan yang akan menampung buku-buku koleksi saya dan bisa buat siapa saja,” terang Hermanu.

Kegemaran mengoleksi buku juga dijalani Prof. Andrik Purwasito, Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UNS. Pada 1990, dia mengoleksi lebih dari 2.000 judul buku. Buku-buku tersebut mayoritas tentang politik, Islam, dan kebudayaan, serta buku tentang komunikasi.

“Apa yang saya lakukan [koleksi buku] merupakan tuntutan seorang dosen yang mengajar banyak topik, mulai dari politik, sastra, ekonomi, hukum, sejarah, seni rupa, penyutradaraan, budaya Jawa, sosiologi, filsafat, ilmu komunikasi, olahraga, dan pendidikan,” terang Andrik yang bertemu Espos di Kampus UNS Solo, Selasa.

Andrik yang mengajar di UGM Yogyakarta, ISI Yogyakarta, ISI Solo, Undip Semarang, dan Untag Surabaya itu juga membeli buku saat melalang buana antara lain ke Jepang, Paris, India, Moskow, dan Moldova.  Asal ada buku yang ada kaitannya dengan seminar dan apa yang diajarkan, dia pasti membelinya.

“Awal jadi dosen gaji yang saya terima sepertiganya untuk membeli buku, sepertiga untuk membayar kredit rumah, dan sepertiga sisanya untuk biaya hidup,” jelas Andrik.

Koleksi bukunya terus bertambah. Sebagian disimpan di rumahnya. Sedangkan yang di kampus sesuai dengan mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa.

Berbeda dengan Hermanu, Andrik menyiapkan ruangan khusus untuk menyimpan buku-bukunya. Tempatnya diatur dengan rak-rak buku yang dirancang sendiri maupun dibeli dalam bentuk jadi. “Ada ruang untuk perpustakaan pribadi dan bisa dikunjungi mahasiswa dan teman-teman,” ujar Andrik. (Arief Fajar S/JIBI)

 

 

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS