musala

Musala, Tempat Ibadah Sekaligus Pendidikan

597 Kali

Membangun rumah biasanya dilalui dengan membuat konsep. Dari konsep itulah, kebutuhan ruang akan dirancang dan disesuaikan dengan luas lahan. Prioritas ruangan akan menjadi pilihan bagi pemilik, untuk membangunnya. Salah satunya, ruang tempat ibadah atau musala. Kehadiran musala selain untuk ibadah juga berfungsi sebagai proses pendidikan keagamaan bagi anggota keluarga.
Membuat musala di dalam rumah, dalam arti dibangun secara khusus untuk beribadah kepada Sang Pencipta menjadi kebutuhan yang sangat pribadi bagi penghuninya. Karena di manapun tempat di muka bumi ini bisa dijadikan tempat untuk beribadah.

Prinsipnya, musala di dalam rumah ini harus memenuhi fungsi dan tujuan peribadatan. Misalnya, luas musala dibuat memadai untuk salat berjamaah seluruh anggota keluarga (jika memungkinkan). Dosen Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS Solo, Mulyadi mengatakan pembangunan musala di dalam rumah juga harus melalui perencanaan.

“Kalau isi (ruang) rumah sudah ditentukan, maka tinggal membuat kulitnya. Artinya, sebelum membuat bangunan fisik musala (kulit), apa rencana yang akan dilakukan dengan musala itu. Misalnya untuk salat sendiri atau untuk berjamaah, untuk pengajian juga atau tidak dan sebagainya. Hal-hal itu yang menjadi esensinya,” kata dia saat ditemui Espos di Kampus UNS beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, hal yang tidak kalah penting adalah memperhatikan pengguna musala. Jika rumah kerap dikunjungi tamu, tempatkan musala dekat dengan ruang tamu agar aksesibilitas mereka tidak terganggu/mengganggu ruang-ruang pribadi. Demikian pula dengan tempat wudu, tempatkan di dekat musala.

Jika musala akan dibuat saf, jaraknya disesuaikan dengan ukuran orang ruku atau bersujud agar antarsaf tidak saling bersentuhan. Jarak yang ideal untuk orang Indonesia sekitar 1,25 meter. Selanjutnya, setelah semuanya tercapai, hal yang lain menjadi pendukung saja, misalnya aksesori islami, tempat menyimpan dan meja Alquran atau tempat menyimpan mukena.

Sementara itu, syarat sebuah ruangan yang digunakan untuk beraktivitas juga harus dipenuhi, yakni adanya pencahayaan dan penghawaan yang cukup. Cahaya matahari ke dalam musala sangat penting supaya ruangan tidak lembab. Kelembaban ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, karena perlengkapan seperti karpet, sarung atau mukena bisa berbau tak sedap.

Cukup pencahayaan

Pencahayaan yang cukup diperlukan untuk membaca Alquran atau literatur keagamaan, jika tersedia. Sedangkan sirkulasi udara juga sangat penting agar ruangan tidak pengap dan bisa mengganggu konsentrasi saat sedang beribadah. Pada sisi lain, ujarnya, jangan lupa mengarahkan musala ke arah kiblat. Menghadap ke arah kiblat (Mekah) pada waktu salat adalah suatu tuntutan syariah dan salah satu sahnya salat. Jika karena keterbatasan tempat sehingga arah bangunan dinilai tidak memenuhi estetika, maka bisa dilakukan dengan mengarahkan safnya.

Salah satu pemilik rumah yang terdapat musala di dalamnya, Wiwid K mengatakan musala dibuat untuk memenuhi kebutuhan adanya tempat beribadah. Namun karena keterbatasan lahan, musala hanya mampu menampung dua orang. “Anggota keluarga sepakat membuat musala. Dulu tempat ini (musala) merupakan lorong, kemudian disekat dengan tembok. Tempat wudunya kami satukan dengan kamar mandi yang ditempatkan bersebelahan dengan musala,” kata dia.  ( Akhmad Ludiyanto)

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS