partisi

Pemisah yang Tak Memisahkan

176 Kali

Desain rumah saat ini seperti pada waktu dulu, tak ada penghalang antara ruang tamu dan ruang keluarga. Bedanya hanya rumah saat ini ukurannya lebih kecil, karena keterbatasan lahan. Ruang tamu pun dimanfaatkan untuk ruang keluarga.

Namun, karena keinginan adanya privasi, beberapa pemilik rumah mencoba memberi batas atau pemisah antarruang (partisi). Bagian yang paling sering diberi partisi adalah ruang tamu dan ruang keluarga. Kehadiran partisi tidak melulu untuk memberi batas antarruang. Ada pula penghuni rumah yang sengaja memasang partisi sekadar mempercantik ruangan.

Pilihan mereka biasanya jatuh pada bentuk dan model yang bisa digeser atau dilipat, sehingga ketika penghuni rumah membutuhkan ruang lebih luas, tinggal menggeser atau melipat. “Saat ini modelnya bahkan tidak sekadar bilah kayu yang diukir atau anyaman rotan yang berjajar. Ada yang berbentuk lemari kaca dengan sela terbuka sehingga sirkulasi udara dan pencahayaan tetap ada. Tentu dengan tetap memerhatikan akses antara ruang satu dengan ruangan lainnya,” ujar Nisa, supervisor Toko Mebel Margo Murah Baru Kota Barat Solo, kepada Rumah190, Rabu (4/4/2018).

Hal senada disampaikan Ahmad, Marketing Toko Mebel Nikita di Jl. Yos Sudarso No. 248 Solo. Selain berbentuk rak buku, ada juga partisi yang divariasikan dengan hiasan unik. Misalnya seperti partisi dari kayu jati dilengkapi rak buku, dan hiasan irisan batang kayu dengan lubang di tengahnya. “Model seperti itu membuat orang bisa melihat kondisi ruang yang dibatasi partisi,” ujar Ahmad kepada Rumah190, Rabu.

Namun, menurut Suparmin, yang memiliki kios di Jl. Hasanudin Solo, masih ada juga yang memanfaatkan bilah kayu untuk diukir atau model lama menjadi partisi. Model seperti ini guna menghadirkan nuansa seni ukir dan kesan lama. Menurut anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Solo, Dwi Wahyu Paryanto, pada intinya partisi adalah benda atau material apa pun yang digunakan untuk membuat ruang terpisah. Masyarakat selama ini hanya tahu beberapa material yang digunakan sebagai partisi, seperti kayu dan rotan.

“Padahal material partisi itu bisa dari gypsum, kaca, asbes, lemari kaca, atau perabot tinggi yang mampu membatasi sebuah ruangan. Bisa juga kisi-kisi atau jalusi kayu atau bentukan dari gypsum,” jelas Dwi Wahyu kepada Rumah190, belum lama ini.

Intinya, material yang digunakan mampu membatasi dan membentuk ruang baru. Karena itu, tak mengherankan saat ini partisi pun tidak harus kaku. Materialnya bisa dari barang-barang bekas, seperti botol minuman energi yang dijadikan pembatas ruang di rumah Ridwan Kamil. “Model partisi sesuai kebutuhan dari pemilik rumah, apakah ingin partisi penuh dalam artian membatasi ruangan layaknya dinding pembatas, atau pembatas yang fleksibel. Jadi partisi yang digunakan bisa digeser sewaktu-waktu sehingga tidak lagi membatasi ruangan, di saat pemilik rumah membutuhkan ruang yang lebih luas,” ujar Dwi Wahyu.

Hal yang harus diperhatikan ketika hendak memanfaatkan partisi, menurut Dwi, adalah akses antarruang yang dipisahkan oleh partisi tersebut. Sebaiknya partisi tidak menghalangi akses cahaya sehingga pencahayaan suatu ruangan masih bisa terpenuhi, demikian juga sirkulasi udara di ruangan tersebut. “Partisi yang baik adalah sesuai kebutuhan, bukan karena bagusnya material yang digunakan kendati tetap harus memerhatikan estetika sebuah ruangan,” kata Dwi Wahyu. (Arif Fajar S.)

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS