Mengadopsi susunan ruangan rumah etnik Jawa bisa membutuhkan lahan yang luas. Namun tidak masalah jika tak bisa mengadopsi keseluruhan susunan ruangan rumah etnik Jawa.//arsindociptakarya.com Mengadopsi susunan ruangan rumah etnik Jawa bisa membutuhkan lahan yang luas. Namun tidak masalah jika tak bisa mengadopsi keseluruhan susunan ruangan rumah etnik Jawa.//arsindociptakarya.com

Pengembangan Rumah Etnik Jawa : Sesuaikan Kebutuhan

2083 Kali

RUMAH190.COM–Setiap bagian pada rumah etnik Jawa selain fungsional juga menjadi simbolisasi akan sesuatu hal. Ada makna tertentu dari setiap susunan bagian dalam rumah Jawa. Setiap bagian dalam rumah Jawa memiliki penyebutan nama sendiri-sendiri. Dosen Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS Solo, Ken Sunarko mengungkapkan pada prinsipnya pembagian ruangan dalam rumah etnik Jawa, antara lain terdiri atas pendapa, pringgitan, ndalem, gandhok, senthong. Ada juga ruangan yang disebut dengan nama gadri, emperan, topengan dan beberapa bagian lainya.

Ken menjelaskan, pendapa terletak pada bagian depan rumah, sementara di depan pendapa bisa ditemukan topengan atau teras terbuka yang ada payon-nya atau atapnya. Topengan dalam bahasa arsitektur barat disebut sebagai porte cochere. Sementara yang disebut pringgitan adalah bagian yang menghubungkan antara ndalem dan pendapa.

Pada dasarnya, pringgitan digunakan untuk mengelar pementasan ringgit wacucal atau wayang kulit. Bagian di belakang pringgitan disebut sebagai ndalem. Pada bagian kanan dan kiri ndalem ada ruangan yang disebut sebagai ghandok.

”Sementara pada bagian belakang ndalem terdapat ruangan yang disebut senthong tengah, kiri dan kanan. Pada bagian tengah biasanya terdapat krobongan,” ujar Ken saat dijumpai Rumah190.com di kediamannya.

Ken yang juga desainer interior hotel ini menambahkan, jika senthong tengah terbuka disebut sebagai pedaringan. Jika diisi dengan hasil bumi disebut dengan petanen dan jika diisi susunan bantal dan guling disebut krobongan. Sementara di belakang senthong tengah terdapat ruangan yang disebut sebagai gadri.

Lahan luas

Sedangkan emperan atau tritisan berada pada wilayah gandhok dan bentuknya mengelilingi ndalem. Emperan ini dapat ditemui jika ndalem dengan gandhok terpisah. Sementara atap rumah etnik Jawa ada yang menggunakan limasan, joglo, pacul gowang, atap kampung, panggang pe dan beberapa jenis atap lainnya.

Berbagai pakem rumah etnik Jawa tersebut dapat diterapkan pada bangunan baru yang ingin mengadopsi konsep Jawa. Namun untuk membangun rumah berkonsep Jawa saat ini, tak harus sama persis dengan susunan rumah etnik Jawa yang sudah menjadi pakem. Rumah etnik Jawa bisa dikembangkan sesuai kebutuhan aktivitas penghuni rumah. Memunculkan atau mengadopsi konsep Jawa bisa dilakukan lewat beberapa hal.

Antara lain lewat pengadopsian karakter bangunan, pemasangan ornamen bernuansa Jawa, penggunaan material dan menggunakan furnitur gaya Jawa masa lalu. Contohnya karakter bangunan bisa dibuat tinggi dan sokonya yang seharusnya pakai kayu dapat diganti dengan kolom beton, ornamennya bisa menggunakan gebyok, materialnya menggunakan ukiran-ukiran kayu.

Jika mau mengadopsi susunan ruangan rumah Jawa bisa saja, syaratnya membutuhkan lahan yang luas. Namun tidak masalah jika tak bisa mengadopsi keseluruhan susunan ruangan rumah etnik Jawa, mengingat jika tetap mengadopsi susunan ruangan rumah Jawa belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau profesi penghuni rumah.  (anh)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS