JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu

Warung Selat Mbak Lies JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Warung Selat Mbak Lies

Perabot Unik Bikin Pembeli Tertarik

885 Kali

RUMAH190.COM—Banyak cara bisa dilakukan pemilik outlet atau warung untuk menarik pengunjung. Jika pengunjung tertarik datang, hal itu tentu bisa meningkatkan omzet usaha. Salah satu contohnya dilakukan pemilik Warung Selat Mbak Lies, Serengan, Solo, Wulandari Kusmadya Ningrum, 49. Ia memasang ratusan guci dan berbagai barang dari bahan keramik di warung makannya.

Ratusan guci dan benda-benda dari keramik menghiasi warung makan tersebut. Pada bagian depan, terdapat empat keramik besar berisi air bersih untuk mencuci tangan.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Warung Selat Mbak Lies

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu
Warung Selat Mbak Lies

Meja-meja dan kursi di warung makan itu juga didominasi bahan-bahan yang terbuat dari porselein. Tak hanya itu, berbagai benda semacam piring berbagai ukuran juga dipajang pada dinding-dinding. Sebagian piring itu dicorat-coret dengan spidol. Ternyata, itu adalah testimoni dari sebagian pelanggan di warung yang menjual selat dan makanan lainnya itu.

Tak hanya benda keramik, warung itu juga dihiasi berbagai lukisan yang dipajang pada bagian dinding. Kerang laut yang dirangkai dengan benang turut menyemarakkan suasana di warung yang buka dari pagi hingga sore tersebut.

Benda-benda keramik itu sebenarnya adalah benda koleksi sang pemilik. Perempuan yang akrab dipanggil Lilis itu mulai mengoleksi benda keramik sejak TK. Ia mengumpulkannya selama bertahun-tahun hingga akhirnya membuka warung makan setelah lulus SMA pada 1986.

Secara bertahap, sejalan dengan perkembangan usaha warung makannya, koleksi yang sebelumnya hanya disimpan di gudang ia susun menjadi satu kesatuan dengan warung makannya. Jangan salah, barang-barang keramik itu bukan sembarang keramik. Lilis mendapatkannya dari berbagai Negara seperti Tiongkok, Thailand, Belanda dan Prancis.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Warung Selat Mbak Lies

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu
Warung Selat Mbak Lies

“Kalau orang enggak tahu, piring cokelat yang digunakan untuk menyajikan hidangan itu mungkin dikira hanya keramik biasa. Padahal itu saya dapatkan dari Prancis,” ujar dia.

Koleksinya bertambah dengan cepat karena orang tuanya bekerja di bidang pelayaran sehingga mereka sering berkeliling dunia. Selain mendapatkan secara langsung di Negara aslinya, keramik itu juga ia dapatkan dari kiriman orang tuanya.

Lilis mengaku memilih keramik yang memiliki bentuk dan gambar yang indah. Koleksinya memang bukan benda berusia ratusan tahun, tetapi benda-benda itu tergolong antik karena merupakan barang lama. “Sebagian keramik ada yang saya jual. Bedanya, kalau yang saya jual ada penunjuk harganya. Kalau enggak ada tempelan harga, berarti tidak dijual,” tutur perempuan ramah itu.

Dekorasi unik juga bisa ditemukan di Warung Makan Bebek dan Ayam Goreng Pak Ndut yang berlokasi di Jl. Abdul Muis No. 32 A, Stabelan, Kepatihan Kulon, Solo. Rumah makan yang menjual berbagai olahan dari bahan daging bebek ini memajang dua sepeda tua atau biasa disebut pit kebo di dekat kasir.

Sepasang beronjong di sisi kanan-kiri ditempatkan pada bagian sadel pembonceng. Ada pula capil yang ditempatkan pada masing-masing sepeda. Di dekat sepeda itu, berdiri beberapa patung bebek yang terbuat dari akar bambu. Dekorasi unik lainnya adalah wastafelnya yang terbuat dari wajan yang dimodifikasi. Pada sisi utara, terdapat taman memanjang dengan hiasan patung bebek yang dicat putih dan bambu hias.

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Wastafel wayah beberk goreng Pak Ndut, Kapatihan

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu
Wastafel wayah beberk goreng Pak Ndut, Kapatihan

Sedangkan di sisi selatan, pada spot lesehan terdapat belasan foto bebek dan aktivitas petani menggembalakan bebek di sawah yang dipasang pada dinding. Development Manager Warung Makan Bebek dan Ayam Goreng Pak Ndut, Arif Widiyono, mengatakan sepeda angin digunakan sebagai pajangan untuk merepresentasikan penggunaan bebek sawah. Bebek sawah identik dengan petani dan sepeda tua yang digunakan untuk “Sepeda dengan padi, caping dan beronjong pada menggambarkan petani yang angon (menggembalakan) bebek,” ujar dia.

Ia menjelaskan penggunaan wajan sebagai wastafel adalah ide kebetulan. “Kami punya stok cukup banyak [wajan]. Makanya kami gunakan sebagai wastafel. Selain untuk dekorasi, wajan itu sangat fungsional untuk mencuci tangan sehabis menikmati hidangan,” papar dia. (Ivan Andimuhtarom)

RELATED POST FOR CATEGORY

Interior

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS