Rumah pahlawan nasional Prof. dr. R. Soeharso, perintis rehabilitasi difabel. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI) Rumah pahlawan nasional Prof. dr. R. Soeharso, perintis rehabilitasi difabel. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

Rumah Antik Dr. Soeharso

2923 Kali

Rumah di seberang jalan gerbang masuk Taman Sriwedari Solo itu terlihat antik dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Keistimewaannya karena sebagian bangunan masih mempertahankan desain peninggalan zaman kolonial Belanda. Lebih dari itu, rumah itu memiliki nilai historis tinggi karena pernah menjadi kediaman salah satu pahlawan nasional yakni Prof. dr. R. Soeharso, perintis rehabilitasi difabel.

“Kabarnya rumah ini dibangun pada awal tahun 1900-an oleh kerabat Keraton Solo bersamaan dengan pembangunan Sriwedari. Tahun berapa persisnya saya tidak tahu. Bapak [dr. Soeharso] pindah ke sini pada 1952 dan meninggal dunia di rumah ini pada 1971,” kata putra pertama dr. Soeharso, dr. Tunjung Sulaksono Soeharso, 69, saat ditemui Espos di kediamannya, Jumat (10/1).

Sebelum menjadi tempat tinggal keluarga Soeharso, rumah tersebut sudah beberapa kali berganti kepemilikan. Bahkan, terdapat tujuh hingga delapan keluarga yang sempat tinggal bersamaan di rumah antik tersebut. “Dulu rumah ini terdiri dari empat ruangan. Ada satu kamar tengah, satu pendapa depan dan satu pendapa belakang. Bangunan rumah ini dulunya sebetulnya lebih mirip dengan Balai Soedjatmoko yang pernah menjadi kediaman dr. Saleh Mangundiningrat,” papar dr. Tunjung.

Selain menjadi tempat tinggal, rumah antik tersebut juga biasa menjadi lokasi praktik pelayanan kesehatan dr. Soeharso. Layanan kesehatan itu tetap buka hingga beliau meninggal dunia pada 1971.

Seiring berjalannya waktu, diakui Tunjung, kondisi bangunan rumah itu mengalami banyak perubahan fisik. Perubahan signifikan terjadi pada bagian dalam rumah yang sudah mengadopsi gaya modern. Sejak direhab pada 1995, rumah itu kini sudah menjadi dua lantai. Kendati demikian, wujud asli yang antik pada beberapa bagian depan rumah masih dipertahankan. “Beberapa tiang kayu itu masih asli. Bagian jendela juga masih khas peninggalan zaman kolonial. Termasuk ornamen [lisplang] yang mengelilingi pinggiran atap,” jelasnya.

Pada bagian depan rumah terdapat empat buah jendela di kedua sisinya. Jendela bercat putih itu menggunakan motif garis-garis horizontal yang menjadi salah satu ciri khas jendela peninggalan zaman kolonial. Pada bagian tepian atap rumah itu dikelilingi dua lisplang dengan motif berbeda pada bagian atas dan bawahnya. Lisplang pada bagian bawah terbuat dari kayu sementara lisplang bagian atas terbuat dari seng. “Seng itu masih asli, belum diganti. Kalau [lisplang] dari kayu itu sebagian sudah diganti baru,” tandas Tunjung.

Pengamat sejarah Heri Priyatmoko mengatakan penataan kota memang sudah maju pesat pada masa pemerintahan Paku Buwono X (1893-1939). Penghuni kawasan Jl. Slamet Riyadi, termasuk di sekitar Sriwedari Solo umumnya berasal dari kalangan bangsawan atau kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. “Biasanya mereka orang terhormat. Entah itu orang yang aktif dalam dunia pendidikan, kesehatan, dan lain-lain,” jelas Heri. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS