Ivanovich Aldino (JIBI) Suasana bangunan pendapa di Rumah Budaya Keratonan, Solo. Ivanovich Aldino (JIBI) Suasana bangunan pendapa di Rumah Budaya Keratonan, Solo.

Rumah Budaya Kratonan, Milik Nina Akbar Tandjung

113 Kali

Tembok tinggi bercat putih di bagian depan jika dilihat sepintas tak beda dengan model rumah di sekitarnya. Namun ketika masuk ke dalam, mata kita langsung terfokus pada bagunan rumah tradisional Jawa dengan ukuran cukup besar.
Rumah dengan dinding bercat putih berhalaman cukup luas milik mertua dari Mulyadi Joyomartono, salah satu menteri di era Presiden Soekarno dulu dikenal dengan nama Dalem Kartotiyasan itu adalah Rumah Budaya Kratonan milik Nina Akbar Tanjung. Seperti rumah tradisional Jawa pada umumnya, rumah yang terletak di Jl. Manduro No. 6, Kartotiyasan, Kratonan, Serengan, Solo, memiliki pendapa di bagian depannya. Di luar pendapa terdapat kolam air mengelilingi pendapa.
Pendapa yang cukup lapang dengan empat tiang kayu jati semakin menambah kuat kesan keunikannya. Apalagi pemilik rumah tidak merombak sama sekali susunan tiang kayu tersebut. Hanya bagian atap yang mengalami renovasi mengingat kondisi awalnya sudah banyak yang rusak.
Lampu grembyong berukuran besar terpasang di bagian atas di antara empat tiang kayu jati. Di bagian bawahnya diletakan meja berbentuk bundar berukuran besar dikelilingi enam kayu jati berukir. Sementara empat lampu grembyong berukuran lebih kecil terpasang di empat sudut pendapa yang terbuka itu.
Memasuki bagian tengah yang merupakan ruang utama (krobongan), tergambar jelas makna Rumah Budaya Kratonan. Di ruangan dengan satu pintu utama berukuran besar dan dua pintu berukuran sedang di kiri kanannya itu, di bagian tengah ruangan diletakkan sebuah kursi jati model kuna berukuran besar.
Di atas kursi kuna tersebut diletakan beragam dokumen budaya, juga mengenai sejarah Kota Solo. Termasuk juga gambar Pangeran Diponegoro di sandaran kursi. Penataan yang artistik membuat tampilan kursi kuna tersebut berubah menjadi ruang pamer.
Ditambah lagi di bagian atas gebyok jati berukuran besar yang berfungsi sebagai pembatas ruang utama dengan sentong (bagian belakang), terpasang repro lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro, Raja Mataram, dan perjuangan rakyat Indonesia.

Tempat Berkesenian
Kesan ruang utama sebagai ruang budaya yang juga bisa berfungsi sebagai ruang pamer semakin kuat dengan adanya lemari kaca yang menyatu dengan dinding berwarna putih.
“Memang di ruang tengah tersebut kita fokuskan untuk ruang budaya, di mana diletakkan buku-buku kebudayaan, buku tentang bangunan-bangunan kuna yang ada di Kota Solo. Termasuk buku tentang sejarah, dan rencananya akan ditambah dengan koleksi buku-buku dari pemilik rumah,” terang Direktur Program Rumah Budaya Kratonan, Wahyu Indro Sasongko.
Ruangan lain adalah sisi kiri dan kanan (gandok) dimanfaatkan untuk tempat santai, dan semacam dapur untuk menyajikan makanan. Sementara di bagian belakang rumah utama, ada bangunan berbentuk L yang digunakan sebagai bangsal, atau tempat istirahat.
Di depan bangsal tersebut, ada bangunan baru berupa pendapa yang berisi seperangkat gamelan. “Dulunya kebon, kemudian dibangun pendapa. Ini disediakan untuk siapa saja yang ingin berkesenian di sini, sesuai namanya Rumah Budaya Kratonan,” ujar Wahyu. (Arif Fajar S/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS