Salah satu ciri rumah etnik Jawa adalah adanya limasan pada rumah tersebut./limasanjati.com Salah satu ciri rumah etnik Jawa adalah adanya limasan pada rumah tersebut./limasanjati.com

Rumah Etnik Jawa: Melestarikan Budaya Jawa

496 Kali

RUMAH190.COM–Pemilihan konsep atau gaya yang diterapkan pada rumah hunian selain dipengaruhi tren biasanya juga terinspirasi oleh latar belakang budaya pemilik rumah. Rumah berkonsep Jawa merupakan salah satu pilihan bagi Anda yang ingin nguri-uri budaya Jawa sekaligus mendapatkan kenyamanan.

Ada banyak konsep yang dapat dipilih untuk diterapkan pada rumah hunian. Antara lain rumah dengan konsep atau gaya modern minimalis, mediterania, back to nature atau kembali ke alam, etnik, kontemporer, futuristik dan beberapa konsep atau gaya lainnya.

Ketika menjatuhkan pilihan membangun rumah dengan konsep tertentu, tak pelak segala sesuatunya yang berhubungan dengan bangunan rumah disesuaikan dengan konsep rumahnya, antara lain pemilihan material bangunan, warna cat hingga pemilihan perabotan seperti penentuan furnitur dan segala pernik-pernik rumah. Pemilihan konsep tertentu selanjutnya turut mempengaruhi suasana yang ingin dihadirkan dalam rumah hunian tersebut.

Menghadirkan nuansa dalam rumah etnik Jawa yang kental dipilih oleh Keluarga KP H Wirastodipuro BcAP yang berdiam di Jl Raja 5 Nataningratan, Solo. Rumah seluas 870 m2 dan berkonsep rumah etnik Jawa Jawa yang sudah berusia lebih dari satu abad tersebut telah mengalami renovasi pada beberapa bagian, tapi tanpa mengubah bentuk aslinya.

Wirastodipuro yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Komite Basa Jawa Surakarta ini mengungkapkan, rumah ini merupakan warisan eyang dari isterinya yang bernama Raden Ngabehi Joyo Sarjono. Karena dirinya bertugas di Jakarta dan sempat berpindah-pindah ke sejumlah kota, rumah tersebut sempat tidak ditinggali dari tahun 1960-an hingga tahun 1990an.

”Setelah saya pensiun, kami memutuskan untuk menempati rumah etnik Jawa ini dan karena untuk hunian maka kami merenovasi rumah ini tanpa mengubah bentuk aslinya. Kami hanya mengganti atapnya yang semula sirap dengan genteng dan mengecat dengan warna kuning gading agar rumah terlihat lebih terang dan lantainya saya ganti keramik,” ujar Wirastodipuro ketika berbincang dengan Rumah190.com.

Perabot antik

Lebih lanjut dia menjelaskan, rumah etnik Jawa yang ditinggalinya tersebut menggunakan konsep ndalem joglo. Pada bagian depan rumah terdapat pendapa untuk menerima tamu yang diapit dengan dhimpil yang digunakan untuk kamar. Pada bagian tengah pendapa terdapat soko guru yang payon atau atapnya berbentuk balok bersusun yang semakin ke atas makin mengerucut.

Dibelakang pendapa terdapat pringgitan yang menghubungkan dengan bagian ndalem yang letaknya lebih tinggi dibandingkan pendapa. Pada bagian tengah ndalem terdapat krobongan dan di kanan kirinya terdapat gandhok yang digunakan untuk kamar tidur. Sementara di belakang ndalem terdapat gandhok yang diapit senthong di kanan dan kirinya.

Nuansa budaya Jawa pada rumah yang menghadap ke Selatan tersebut makin kental dengan kehadiran berbagai perabotan antik, seperti almari kuno untuk pajangan yang dibuat pada tahun 1828 yang diletakkan di ndalem, ukiran-ukiran kuno di atas pintu masuk ke ndalem, songsong (payung) Jawa, meja dan kursi antik dan beberapa benda kuno lainnya.

”Pada bagian depan halaman ada paviliun, tapi sudah dimodifikasi semi modern dan karena di sini kebetulan sering digunakan untuk pertemuan maka kami bangun jendela-jendela, ya dibuat sesuai kebutuhan,” ujar penulis buku Ringgit Wacucal (Wayang Kulit) tiga bahasa yang menjelaskan rumahnya sekaligus digunakan sebagai Sekretariatan Komite Basa Jawa Surakarta.

Sementara konsep rumah etnik Jawa dengan atap limasan diterapkan pada rumah yang didiami oleh Suwarni, warga Kerten. Dia menjelaskan rumah tersebut merupakan warisan dari eyangnya yang bernama Trunojoyo yang didirikan lebih dari 50 tahun lalu. Namun rumah tersebut pernah mengalami beberapa kali renovasi disesuaikan dengan kebutuhan keluarganya. Karena rumah tersebut tidak ada pendapa, jadi hanya terdiri dari emperan yang dipergunakan untuk teras rumah. Setelah emperan terdapat ndalem yang disangga dengan dua soko. Sementara di kanan dan kiri ndalem terdapat gandhok, di mana gandhok kanan untuk kamar dan gandhok kiri untuk ruang makan.

”Sementara krobongan-nya sudah dimodifikasi dan diganti dengan pintu. Warna cat rumah dan jendela dipilih perpaduan hijau dan kuning gading. Sementara di belakang ndalem terdapat gandhok tengah yang digunakan untuk kamar anak saya,” kata dia. (Aeranie Nur Hafnie)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS