Mariyana Ricky/ Marakez Cafe Mariyana Ricky/Marakez Cafe

Rumah Kuno: Keindahan dalam Kombinasi Kolonial-Arab

1169 Kali

 

Bangunan di Jl. Untung Suropati No. 76, Solo, itu dicat dengan warna putih. Bentuknya mirip dengan bangunan bergaya kolonial yang cenderung berbentuk kotak dengan dinding yang tingginya lebih dari tiga meter. Namun, setelah melihat ke dalam, nuansa bangunan Timur Tengah bisa dirasakan sangat kental. Ya, bangunan itu adalah Marakez Kafe.

Pintunya yang menghadap ke barat dicat dengan warna putih dengan dua daun pintu. Masuk ke dalam, ada ruang berukuran 4 meter x 3 meter. Sejatinya, ruangan itu adalah ruang tamu. Namun, kini sudah dimodifikasi sebagai ruang tunggu kafe.

Di sebelah timur ruangan tersebut terdapat ruangan yang lebih besar dengan kamar mandi di dalamnya. Kini, ruangan itu difungsikan sebagai musala. Padahal, dulunya, ruang itu adalah ruang tidur untuk tamu. Empat buah kaligrafi Hendra Buana yang dibikin pada 2006 terpampang pada dinding ruangan itu.

Pada ruang tamu, terdapat pintu dengan dua daun pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang utama di gedung yang konon sudah berusia lebih dari setengah abad tersebut. Namun, daun pintunya sudah dilepas untuk menyesuaikan dengan konsep kafe dan resto. Pandangan mata di dalam ruang itu juga tertuju pada lantai bernuansa klasik berwarna hijau dengan ornamen warna kuning dan putih khas Timur Tengah. Lantai itu mirip dengan lantai Masjid Agung Solo. Berbagai pelat nomor kendaraan dari negara-negara Arab juga menghiasi salah satu sudut dinding di ruang itu.

Pada sisi kiri ruang utama terdapat tiga kamar. Salah satunya dimanfaatkan sebagai jalsah, ruang untuk bersantai. Pada bagian depan pintu terdapat rumbai string yaitu rumbai rumbai dari kain rajut yang makin mengentalkan nuansa Arab.

Di dalam ruang jalsah ada tempat dudukĀ  seperti amben [dipan dalam bahasa Jawa] dengan busa empuk dan meja di tengah jalsah itu. Sebuah sisha, alat hisap khas Timur Tengah berada pada salah satu sudut ruangan. Tak lupa, televisi dan perlengkapan audio komplet juga disediakan di sana.

“Itu ruangan privat di dalam ruangan bagi keluarga Arab. Bisa juga untuk rekanan dan orang dekat,” ujar pemilik Marakez Kafe, Husni Baradja.

Beberapa ornamen khas Timur Tengah juga dihadirkan di kafe tersebut. Sebut saja lampion yang ditempelkan pada dinding. Lampion itu terbentuk dari enam sisi kaca dengan frame dari besi warna hitam dof. Bagian atas lampion terhubung dengan rantai besi yang dikaitkan pada besi panjang dan menempel pada dinding. Selain itu terdapat beberapa lampion gantung berukuran sebesar bola basket pada bagian tengah ruang utama.

“Lampion sebenarnya juga ciri khas Timur Tengah. Tapi ada sebagian orang yang menganggap lampion lebih identik dengan budaya Tionghoa,” ujar Husni.

Di bagian belakang rumah terdapat bustan atau taman luas untuk bersantai. Dua pohon mangga merindangi hampir keseluruhan bagian itu. Keberadaan taman di belakang untuk bangunan timur tengah menyuratkan filosofi hijab, yaitu menjaga aurat. Artinya, penghuni rumah khususnya perempuan bisa bersantai tanpa terekspose orang luar.

Secara umum, bentuk bangunan Marakez Kafe adalah bangunan zaman Belanda dengan tata ruang sesuai budaya Timur Tengah. Husni mengakui bangunan itu sudah dimodifikasi dengan tema perfect blend of middle eastern and western cuisine. Misalnya ada bar dan pajangan dinding yang identik dengan western. (Ivan Andimuhtarom/JIBI)

 

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS