Salah satu ciri khas utama rumah bernuansa Islami adalah adanya ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat ibadah, dalam hal ini sebagai musala. /houzz.com Salah satu ciri khas utama rumah bernuansa Islami adalah adanya ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat ibadah, dalam hal ini sebagai musala. /houzz.com

Rumah Nuansa Islami : Beribadah Bisa Lebih Khusyuk

290 Kali

RUMAH190.COM–(Menciptakan rumah bernuansa Islami tak hanya berfungsi sebagai media untuk merepresentasikan identitas pemilik rumah adalah seorang muslim. Lebih dari itu, rumah bernuansa Islami mampu menyuguhkan kenyamanan dan ketenangan bagi para penghuninya.

Rumah sejatinya tak hanya digunakan sebagai tempat berteduh. Lebih dari itu, rumah juga memiliki fungsi sebagai media yang merepresentasikan identitas pemilik rumah. Salah satunya dengan menciptakan nuansa Islami dalam rumah tinggal yang mencerminkan empunya rumah adalah seorang muslim.

Menciptakan nuansa Islami pada rumah tinggal dapat dilakukan dengan beragam cara. Tergantung tafsir yang dipakai pemilik rumah untuk mengaplikasikan konsep Islam dalam menciptakan rumah tinggal yang bernuansa Islami.

Salah satu ciri khas utama rumah bernuansa Islami adalah adanya ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat ibadah, dalam hal ini sebagai musala. Ciri khas tersebut dapat ditemui di kediamanan keluarga KH Agung S Syuhada di kawasan Mojolaban, Sukoharjo.

”Syarat kami ketika membangun sebuah rumah adalah harus ada tempat untuk salat, terutama tempat yang nyaman digunakan untuk melaksanakan salat malam,” ujar suami dari Hj Lilis Fatimah ini saat berbincang dengan Espos di kediamannya.

Nuansa Islami sangat kental terlihat di kediaman Ustad Agung yang setiap elemen bangunan pada rumahnya sarat makna filosofi. Di samping rumah induk dibangun sebuah bangunan, semacam gazebo atau pendapa multifungsi yang dapat digunakan untuk salat berjamaah, tadarus, menunaikan salat malam, untuk tempat mujahadah hingga berfungsi sebagai tempat menerima tamu.

Di salah satu area dinding pendapa yang dinamakan padepokan Singoludiro tersebut terdapat ornamen berupa tulisan salah satu surat dalam Alquran. Ustad Agung mengungkapkan dirinya mencontoh falsafah para wali dalam membangun rumah.

”Sebelum sampai di padepokan ini, orang harus melewati tiga anak tangga yang mencerminkan iman, Islam dan ihsan. Maknanya, orang yang sudah memiliki ketiga hal tersebut berarti dia adalah orang yang selamat ketika sampai di padepokan ini,” kata pimpinan Pondok Pesantren Dzulfikar ini menjelaskan.

Pendapa berbentuk panggung tersebut dibangun semi terbuka dengan pagar dari kayu jati setinggi sekitar 50cm yang di tengahnya divariasikan dengan ornamen berbentuk mesjid. ”Kami memang sengaja membuat pendapa ini semi terbuka sehingga lebih nyaman untuk beribadah. Apalagi ketika terang bulan, sangat enak beribadah di tempat ini,” kata ayah dari Azka Aqilah Nazwa, Alifah Fatimatuzahra dan Fawas Kholifatulah Singoludiro.

Ornamen kaligrafi

Pendapa tersebut memiliki tiga pilar yang dibangun sejajar di tengah ruangan. Tiga pilar tersebut memiliki makna yang mencerminkan tiga jenis orang di dunia, yakni orang mukmin, orang kafir dan orang munafik.

Makna filosofi juga sangat kental pada bangunan pagar rumah Ustad Agung yang dibuat semacam gapura. Atap gapura dibentuk dengan konsep limasan, di mana pada tengah atapnya ada tiga ornamen, yakni dua buah mahkota yang terbuat dari terakota, sepasang ular berwarna hijau dan tulisan Allah dari bahan tembaga.

”Tulisan Allah berada di posisi yang paling tinggi. Artinya, hanya Allah satu-satunya yang Maha Esa dan Maha Tinggi. Berada di atas ornamen mahkota yang mencerminkan kekayaan, kedudukan, jabatan dan kesenangan duniawi lainnya dan berada lebih tinggi dari ornamen ular yang merupakan simbol kesyirikan. Jadi saat orang melewati gapura ini, mereka memasuki pintu ampunan.”

Ciri khas lain dari rumah bernuansa Islami adalah ornamen-ornamen rumah yang bernafaskan Islam, seperti ornamen kaligrafi, gambar mesjid dan sebagainya. Seperti terlihat di kediaman Ny Tatik di Perumahan Sendang Asri Kadipiro, yang memasang ornamen bernuansa Islami di setiap ruangan dalam rumahnya.

Ny Tatik menyebutkan di setiap ruangan rumahnya ada ciri khas Islami, yakni ada tulisan Allah, gambar kakbah, gambar mesjid, tulisan doa maupun surat Yasin. Sementara musala ditempatkan di lantai dua rumahnya.

”Karena rumah saya tidak begitu luas, maka saya menempatkan musala di lantai dua dengan anak tangga yang bisa diakses dari teras rumah. Musala yang ditempatkan di luar rumah dimaksudkan untuk memudahkan tamu menunaikan salat,” ujar Ny Tatik.

Nuansa Islami di kediaman ibu dari dua anak tersebut semakin terasa dengan dominasi warna hijau di rumahnya. Cat warna hijau terlihat di beberapa ruangan rumahnya, pagar dan lis atap rumah. ”Rumah saya memang didominasi warna hijau, karena warna hijau dapat menciptakan suasana sejuk dan tenang,” kata dia. (Aeranie Nur Hafnie)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS