Rumah panggung yang terdapat di Perumahan Baru Gentan, Sukoharjo. (Dok/JIBI) Rumah panggung yang terdapat di Perumahan Baru Gentan, Sukoharjo. (Dok/JIBI)

Rumah Panggung Unik Khas Minahasa

1695 Kali

 GRIYA190.COM — Di antara bangunan modern berlantai dua di Perumahan Gentan Baru, Gentan, Baki, Sukoharjo, terdapat sebuah bangunan yang mencuri perhatian. Rumah bermaterial kayu cempaka itu berdiri megah dengan 10 pilar penyangga setinggi dua meter. Rumah panggung, demikian sang empunya rumah, Muh. Taufiq, menyebut rumah baru yang terletak di samping rumah lamanya.

Rumah panggung unik itu merupakan rumah adat khas Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut). Masyarakat setempat menyebut rumah knock down itu sebagai wale atau bale yang berarti tempat beraktivitas keluarga. Sistem bongkar pasang (knock down) dalam pembuatan rumah adat Minahasa dipopulerkan kali pertama oleh Paulus Tiow, warga Woloan, Minahasa, pada 1942. Ide tersebut muncul setelah rumah adatnya dibeli serdadu Jepang. Sejak itu, Paulus memproduksi rumah unik adat Minahasa dengan sistem bongkar pasar untuk dijual. Jejak Paulus itu diteruskan warga Minahasa lainnya, salah satunya Jendri Momongan, 40, warga Tambasihan Atas, Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulut.

Rumah panggung yang terdapat di Perumahan Baru Gentan, Sukoharjo. (Dok/JIBI)

Rumah panggung unik yang terdapat di Perumahan Baru Gentan, Sukoharjo. (Dok/JIBI)

Jendri menjadi koordinator tukang dalam proyek rumah panggung pesanan Muh. Taufiq. Ia bersama tiga tukang kayu asal Minahasa merangkai rumah panggung itu selama sepekan. “Sebelum diboyong ke Solo, kami membuat rumah panggung itu selama enam bulan di Kawangkoan Barat. Setelah selesai baru dibawa ke sini [Solo] dengan dua kontainer. Kami hanya butuh waktu sepekan untuk mendirikan rumah knock down ini. Prosesnya sekarang sudah 95%,” kata Jendri saat ditemui rumah190.com, beberapa waktu lalu.

Rumah panggung itu menjadi rumah khas Minahasa pertama yang masuk Solo. Jendri tak hanya mendapat proyek dari Muh. Taufiq, tetapi ia juga harus menyelesaikan proyek yang sama di rumah saudara Muh. Taufiq di Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen. Jendri mengaku menerima banyak pesanan rumah panggung unik dari Bogor, Malang, dan Jakarta. Rata-rata rumah yang dipesan dimanfaatkan untuk vila.

Keistimewaan rumah adat Minahasa terletak pada atapnya. Meskipun semua material bangunan terbuat dari kayu, atapnya ternyata tak menggunakan genting tanah seperti umumnya rumah Jawa. Atap rumah Minahasa terbuat dari seng, dedaunan, atau elemen besi. Orang Minahasa menganut kepercayaan bahwa hidup di bawah tanah (genting tanah) itu tidak baik. Mereka beranggapan hanya orang yang meninggal dunia yang bertempat di bawah tanah. Demikian pula, rumah milik Muh. Taufiq menggunakan atap metal.

Rumah unik itu berukuran panjang 8 meter dan lebar 4 meter yang menempati lahan seluas 144 m2. Rumah seluas 32 m2 itu terbagi menjadi dua ruang, yakni satu kamar dan satu ruang tamu, serta teras kecil di bagian paling depan. Akses masuk rumah itu menggunakan dua tangga yang terletak di bagian belakang dan depan.

“Rumah ini memang sudah dimodifikasi dengan sentuhan modern. Rumah adat Minahasa asli memiliki dua tangga di depan, yakni di sisi kanan dan kiri. Tapi, rumah Pak Taufiq ini hanya memiliki satu tangga depan di sisi kiri [utara],” terang Jendri.

Rumah itu difungsikan bagi para tamu Muh. Taufiq, sekaligus sebagai kantor. Di bawah rumah digunakan untuk garasi motor dan mobil. “Rencana untuk tamu-tamu. Daripada menginap di hotel, mendingan menginap di rumah kayu itu. Rumah model seperti ini prospektif untuk dikembangkan di daerah perkotaan,” kata Taufiq. (Tri Rahayu/JIBI)

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS