rumah Woyo Wasito menyerupai perahu kertas rumah Woyo Wasito menyerupai perahu kertas

Rumah Unik Berbentuk Perahu Kertas

407 Kali

perahu2Bentuk perahu kertas yang unik ternyata menjadi inspirasi pembangunan sebuah rumah di Kampung Kuwungsari, Sragen Kulon, Sragen. Rumah tua yang diperkirakan sudah berusia 80 tahun itu masih kokoh berdiri di pinggiran jalan, tepatnya di belakang Kantor BRI Cabang Sragen.

Bentuk bangunan rumah itu berbeda dengan rumah yang berada di sekeliling. Jika sebagian rumah menggunakan model atap limasan atau mengerucut ke atas, rumah ini justru mengerucut ke bawah. Atap rumah ini lebih lebar daripada bagian alasnya. Atap rumah itu membentuk huruf W jika diamati dari depan. Pada bagian tengahnya terdapat dinding penyekat dengan ketebalan sekitar 30 cm. Jika dicermati dari depan, rumah itu tampak seperti mainan perahu kertas. “Saya membeli rumah ini 1970-an. Saat saya beli, bentuk sudah seperti itu. Jadi saya adalah tangan [pemilik] kedua,” ujar Woyo Wasito, 80, pemilik rumah tersebut saat ditemui Espos di bengkelnya, beberapa waktu lalu.

Sebagai pemilik dengan status tangan kedua, Wasito mengaku tidak tahu banyak tentang latar belakang di balik pembangunan rumah berbentuk menyerupai perahu kertas tersebut. Wasito mengaku membeli rumah itu dari tangan Endro, seseorang yang dikenalnya pernah bekerja di Departemen Penerangan. Karena kerap ditugaskan di Ambon, rumah tersebut akhir dijual kepada Wasito. Endro merupakan cucu dari Pono, orang yang membangun rumah tersebut.

Semasa hidupnya, Pono dikenal memiliki kecintaan terhadap kapal atau perahu. Tak heran jika bangunan rumahnya dibuat menyerupai perahu. “Sebetulnya bentuk rumah itu bukan menjadi alasan utama untuk saya beli. Saya membeli rumah itu karena dekat dengan bengkel saya [di Jl. Sukowati]. Itu saja. Tapi sepertinya ini adalah satu-satunya rumah di Sragen dengan bentuk menyerupai kapal,” papar pria yang masih memiliki garis keturunan bangsa Tiongkok ini.

Ny. Jumadi, 70, mengungkapkan sebelum dijual kepada Wasito, rumah tersebut sudah dihuni tiga generasi.  Pono adalah paman dari Ny. Jumadi. Pono memiliki putra bernama Budi yang memiliki anak bernama Endro. “Jadi, saya itu keponakan dari Pak Pono. Rumah ini usianya sudah tua karena sudah dihuni tiga generasi sebelum akhirnya dijual. Mungkin usianya sekitar 80-an tahun,” ucapnya.

Rumah seluas sekitar 150 meter persegi itu berdiri pada lahan seluas 400 meter persegi. Bagian luar rumah ini masih terlihat asli. Selama ini renovasi hanya difokuskan pada bagian interior rumah yang menghadap ke sisi timur tersebut.

Lantai rumah tersebut sebelumnya menggunakan ubin bermotif asal Italia. Namun seiring berjalannya waktu, ubin itu sudah mulai keropos sehingga diganti dengan model ubin keramik biasa. Rumah itu memiliki tiga kamar tidur dengan ukuran 4×4 meter persegi, satu kamar mandi dan satu dapur. Dua sumur terdapat di sebelah utara rumah. Satu sumur di antaranya dimanfaatkan oleh tetangganya, sementara satu sumur dimanfaatkan secara pribadi.

Selain bagian lantai, renovasi juga dilakukan pada bagian langit-langit rumah. Pada bagian langit-langit rumah itu terdapat plafon berlapis karpet warna hijau. Pada bagian tengahnya terdapat lubang berbentuk segi empat yang difungsikan untuk menggantung lampu. Woyo Wasito juga memberi sentuhan modern pada desain langit-langit rumah dengan menempatkan beberapa sound system. “Perangkat itu hanya untuk memutar musik, sesuai hobi saya. Saya tidak pernah menggunakan rumah ini sebagai tempat berkumpul warga sehingga perangkat ini jarang difungsikan,” papar Wasito.

Menurut Wasito, pada saat rumah ini dibangun, saat itu belum ada pabrik yang memproduksi semen. Hal itu bisa dicermati pada bahan material dinding rumah. Dia hanya melihat adanya gamping sebagai bahan campuran pasir. Kendati dibangun tanpa menggunakan semen, Wasito mengagumi kondisi bangunan rumahnya yang tetap kokoh hingga sekarang. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS