Nico Irawan/JIBI Galeri di rumah Irawati Nico Irawan/JIBI Galeri di rumah Irawati

RUMAH UNIK : Griya Asri Irawati Kusumorasri

367 Kali

 

Nama R.Ay. Irawati Kusumorasri di dunia seni tari tak diragukan lagi. Sebagai pelestari seni tari terutama Jawa, Irawati dikenal hingga dunia internasional. Apalagi kini dia menjabat sebagai Direktur Solo International Performing Arts (SIPA).

Tidak hanya melestarikan seni tari, dalam menata rumahnya Irawati memilih gaya tradisional dalam hal ini etnik Jawa. Saya berkunjung ke rumahnya di Jl. Kedasih No. 22 Kerten, Laweyan Solo, merasakan nuansa Jawa dan keasrian. Pagar dan pintu kayu menutupi bagian depan kompleks seluas sekitar 700 m2 itu. Masuk ke dalam ada halaman cukup luas. Di tanah tersebut berdiri tiga bangunan berbentuk limasan dengan dinding bata ekspose dan satu pendapa.

Menurut Irawati,  bangunan pertama yang terlihat dari depan adalah bangunan asli berupa rumah yang atapnya sudah diganti dengan atap limasan menghadap ke selatan (ke jalan).

Bangunan ini difungsikan sebagai galeri sekaligus untuk menerima tamu. Di dalamnya ada dua lemari berisi keramik, porselen dari Korea, dan barang pecah belah peninggalan orang tuanya. Ada satu lemari lagi digunakan untuk menyimpan cinderamata yang didapat saat menari di Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Inggris, Kenya, Korea, Jepang, Rusia, Tiongkok, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Singapura.

Ada juga tombak, meja makan kuno yang bisa dilebarkan dan dilipat lengkap dengan kursinya. Gebyok menjadi pembatas ruang galeri dan tempat penyimpanan kostum. “Saya namakan Galeri Sri Wulan,” ujar Irawati.

Di samping kanan (barat) ada pintu butulan menghubungkan rumah. Di sisi kiri (timur) ada bangunan pendapa ukuran 9 meter x 8 meter tanpa empat saka (tiang). “Pendapa Soedhiatmo [nama ayah Irawati] untuk latihan menari jadi agar luas tidak pakai tiang. Saya sempat berkonsultasi dengan dosen arsitektur UNS Solo agar atapnya tetap kuat kendati tanpa empat tiang di tengahnya,” jelas pemilik sanggar tari Semarak Candra Kirana ini.

Di samping utara pendapa, ada rumah limasan yang digunakan sebagai kantor SIPA. Satu pintu kayu dan dua jendela dengan teralis kayu kotak yang dipasang diagonal terpasang di bagian depan. Teras dihiasi lukisan wayang gedog, di bagian dalam kiri kanan ada lemari besar. Sementara dinding sisi utara dari gebyok yang dipadukan dengan lukisan Suku Maya di bagian atasnya. “Sisi barat ada sumur lama yang masih saya pertahankan hanya ditambahi dua toilet untuk umum.”

Ada tembok dengan roster yang dilapisi cermin sebagai penyekat antara halaman dengan bagian depan rumah atau Dalem Widyaningrum. Rumah yang merupakan tempat privasi Irawati memiliki jendela dan pintu ukiran Kudus. “Karena ukiran Kudus lubang-lubang jadi saya lapisi cermin, sekaligus untuk tolak balak,” ujar Irawati. (Arif Fajar S/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS