Kerobongan Ndalem Prodjo Loekitan Kerobongan Ndalem Prodjo Loekitan

Rumah Unik: Kerobongan, Ruang Sakral untuk Berdoa

1135 Kali

Salah satu unsur yang harus ada dalam rumah adat Jawa adalah kerobongan. Ruangan itu menjadi point of interest pada senthong tengah Dalem Ageng yang biasa berlokasi di belakang pendapa. Contoh kerobongan ini masih bisa dijumpai di Ndalem Projo Loekitan di Jl. Gatot Subroto 32/83, Kemlayan, Serengan, Solo. “Kendati penuh hiasan berikut bantal dan gulingnya, kerobongan itu tidak diperkenankan menjadi tempat tidur. Ini adalah ruangan sakral untuk berdoa,” jelas pakar interior rumah adat dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Rahmanu Widayat, saat ditemui Espos di kantornya, beberapa waktu lalu.

Di dalam kerobongan biasanya juga terdapat dua ikat gabah. Ruang kerobongan biasanya juga diapit dua buah cermin di sebelah kanan dan kiri yang dikenal dengan sebutan Kaca Benggala. Di depan kerobongan itu biasanya terdapat sepasang patung pengantin pria dan wanita yang disebut Loroblonyo.

Menurut Rahmanu, lahirnya konsep kerobongan di rumah adat Jawa diilhami cerita Dewi Sri, simbol kemakmuran dan kesuburan. Loroblonyo merupakan perwujudan Dewi Sri dan Raden Sadono. Dalam budaya Jawa, Dewi Sri dan Raden Sadono merupakan saudara kandung, namun keduanya justru saling mencintai. “Selama ini Dewi Sri itu disimbolkan sebagai tanaman padi.  Di depan kerobongan inilah kalangan petani biasanya berdoa sebelum mereka mengenal konsep agama,” terang Rahmanu. “Seiring berjalannya waktu, konsep agama mulai dikenal masyarakat petani zaman dahulu. Bagi yang beragama Islam, biasanya kerobongan jadi tempat salat,” tambah Rahmanu.

Sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, menambahkan Kampung Kemlayan dahulu dikenal sebagai tempat tinggal para seniman Keraton Kasunanan Surakarta. Menurutnya, rumah yang dibangun pada zaman dahulu merupakan simbol kepriyayian atau kebangsawanan. Kebanyakan rumah priyayi, sambung Heri, lebih bersifat tertutup dari jangkauan masyarakat kelas bawah. Kendati begitu, hal itu tidak berlaku pada Ndalem Projo Loekitan. “Kendati rumah bangsawan, dahulu rumah ini kerap dijadikan sebagai tempat latihan karawitan maupun tari topeng oleh masyarakat sekitar. Hal itu menandakan tidak ada sekat antara masyarakat kelas atas dengan kelas bawah. Hal inilah yang membedakan Ndalem Prodjo Loekitan dengan rumah priyayi pada umumnya,” ujarnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS