rumah Mugiyono Kasido rumah Mugiyono Kasido

RUMAH UNIK MUGIYONO Kuno, Modern, dan Alam Berpadu

626 Kali

 

Dalam Rumah

Dalam Rumah

Suasana alam dengan udara sejuk langsung menyapa saat Espos memasuki lahan seluas kurang lebih 2.800 m2 di Pucangan RT 001/RW 007, Krapyak, Kartasura, Sukoharjo, yang di atasnya berdiri bangunan rumah milik seniman tari Mugiyono Kasido.

Apabila melihat sepintas rumah seluas 400 m2 milik seniman tari yang karyanya sudah mendunia ini dari luar kesannya seperti rumah biasa di perdesaan. Namun jika diperhatikan detailnya, kesan kagum langsung menjalar.

Rumah menghadap ke timur ini menurut pemiliknya, Mugiyono Kasido, berkonsep seperti kehidupan yang kontemporer. Antara kuno dan modern bersatu membentuk sebuah alur yang menyatukan penghuni dengan alam.

Bagaimana tidak, setiap ruangan yang ada di dalam rumah suami Nuri Aryati ini terhubung dengan alam melalui banyak pintu yang ada di rumah tersebut. “Inspirasinya seperti candi, banyak ruang namun akhirnya keluar kembali ke alam lagi,” terang Mugiyono Kasido sang penari, Mencari Mata Candi.

Diawali dengan sebuah bangunan limasan atau pendapa yang berada di depan pintu kayu jati. Memasuki ruang utama, terdapat meja kursi tamu yang terbuat dari dangkelan kayu jati yang unik di sampingnya ada gamelan, dan alat musik tradisional lainnya.

Ketika pandangan mata terarah ke dinding, sederet foto dan poster pertunjukan dari pemilik rumah tertata rapi menempel di tembok yang dibiarkan kasar. Foto saat Mugiyono berangkat ke Jerman untuk pertunjukan tari dengan titel Some Shine pada 1995 mengawali deretan foto yang ada di ruangan. Termasuk foto saat Mugiyono menempuh pendidikan di SMKI dan mulai pentas di tempat orang punya hajatan hingga foto wisuda di STSI pada 1993 menempel di dinding rumah.

“Ibaratnya sebuah museum yang mengambarkan perjalanan pendidikan dan perjalanan karier saya,” tutur ayah dari Mumtaz, Magnum, dan Marvel ini.

Bergeser ke bagian dalam sebuah ruangan yang cukup luas langsung terpampang di depan mata. Meja hias antik berada di samping pintu kamar tidur anak. Namun ada yang unik di ruang tidur tersebut, sebuah gebyok berukuran sedang terpasang sebagai dinding sisi timur sekaligus penghubung dengan alam.

Sementara di ruang santai, yang tepat berada di kamar anak kedua, terdapat hiasan dinding berupa topeng-topeng kayu. Ada layar LED dan DVD yang menjadi sarana latihan menari Marvel dan Magnum. Melangkah ke sisi utara (kanan) ada ruang makan berukuran sedang di samping dapur. Meja makan menempel di dinding dengan dua jendela kaca bening. Sehingga ketika menyantap hidangan bisa sambil memandang ruang terbuka hijau di belakang rumah dengan sebuah kolam ikan.

 

Hemat Energi

 

Kembali ke ruang tengah, terdapat gantungan kartu-kartu yang pernah dipakai sebagai name card saat pertunjukan di dalam negeri dan luar negeri. Di ruangan itu pula terdapat meja besar yang multiguna. “Kadang untuk ngobrol dan berdiskusi namun juga terkadang menjadi meja makan berukuran besar,” terang Nuri yang menjelaskan ia dan suaminya membeli tanah setelah membaca iklan di Solopos.

Sebelum memasuki ruang berikutnya yang berada di sisi barat, terdapat kamar utama pemilik rumah yang berdampingan dengan kantor dan lorong tempat seniman dari dalam dan luar negeri menimba ilmu dari pemilik rumah. Lagi-lagi ruangan kantor dan ruang “belajar” terhubung dengan pintu menuju ke luar rumah. Ketika memandang langit-langit rumah, kayu munggur dengan serat yang apik menjadi atap rumah.

Di dekat ruang belajar itu pula ada dua guest room atau ruang untuk istirahat para tamu yang berada di bagian belakang dan langsung menuju kebun. Di tempat itu pula ada kamar mandi dengan gebyok sebagai atapnya. “Tukang yang membangun rumah saya sempat bingung, tapi itu ibaratnya pintu menuju langit. Jika dihitung ada 16 gebyok yang terpasang di rumah ini,” ujar Mugiyono yang mengaku sudah nyicil gebyok sejak sebelum rumah tersebut dibangun 2006 lalu.

Uniknya lagi, karena gebyok yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lainnya, dan yang dipasang sebagai penyekat ruangan maupun dinding kamar, pintunya semua masih bisa dibuka.

“Konsepnya hemat energi, jadi cukup membuka pintu-pintu yang ada untuk mendapatkan cahaya guna menerangi ruangan. Selain itu udara sejuk bisa langsung masuk ke rumah tanpa harus memasang pendingin ruangan (AC),” tutur Mugiyono.

Setelah berlama-lama di dalam rumah yang berudara sejuk dengan berbagai hiasan dan barang-barang antik, Espos mencoba melihat luar rumah. Di luar rumah terdapat sejumlah pohon yang sebagian sengaja ditanam namun ada juga yang tumbuh dengan sendiri berasal dari biji yang dijatuhkan hewan codot.

Terdapat juga bekas kandang kerbau di sisi timur rumah yang kadang digunakan untuk tempat nongkrong, mencari ide bahkan untuk panggung pertunjukan tari. Sementara di tengah kebun terdapat lantai dengan delapan titik yang biasa disebut Mandala. “Itu biasa untuk pentas juga, seperti saat Rain Festival belum lama ini,” jelas Mugiyono.

 

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS