Pendapa menjadi wujud penerapan konsep rumah adat Jawa di Ndalem Prodjo Loekitan. Seluruh bagian pendapa rumah ini masih asli kecuali atapnya (Dok) Pendapa menjadi wujud penerapan konsep rumah adat Jawa di Ndalem Prodjo Loekitan. Seluruh bagian pendapa rumah ini masih asli kecuali atapnya (Dok)

Rumah Unik: Ndalem Prodjo Loekitan

831 Kali

Bangunan rumah unik bernama Ndalem Prodjo Loekitan itu tenggelam di antara bangunan hotel dan pusat perbelanjaan yang tinggi menjulang di Jl. Gatot Subroto 32/83, Kemlayan, Serengan, Solo.

Rumah di lahan seluas 1.270 m2 itu nyaris tidak terlihat. Untuk menemukannya orang harus melewati lorong yang lebarnya kurang lebih hanya dua meter. “Banyak orang tidak tahu di sini ada rumah. Orang lebih banyak mengira jika itu gang masuk perkampungan. Padahal itu gerbang masuk rumah kami,” kata Gunawan Joko Maryono, 54, pemilik rumah tersebut saat ditemui Espos, beberapa waktu lalu.

Ukiran tahun yang terletak di setiap ventilasi yang terpasang di beberapa tempat menandakan rumah unik itu dibangun dalam tiga tahap. Tahap pertama yakni 1838, tahap kedua 1847, dan tahap ketiga 1911. Dinding rumah itu sebenarnya dibangun tanpa menggunakan semen dan kerangka besi, melainkan hanya pasir, batu bata dan gamping. Kendati begitu, soal kekuatannya tidak perlu ditanyakan. Meskipun dibangun lebih dari 1,5 abad yang lalu, rumah itu masih terlihat kokoh.

Keunikan lain rumah ini adalah penggunaan pakem rumah adat Jawa. Ada pendapa di bagian depan rumah yang menghadap ke selatan. Pendapa itu masih asli. Perubahan hanya terjadi pada bagian atap yang terpaksa diganti karena sudah terlalu tua. Lantai pendapa itu masih berupa tegel atau ubin kuno yang unik. Nilai klasik ubin itu terletak pada permukaannya yang kasar dengan tambahan motif bunga dan bulatan.

Pendapa tersebut diterangi beberapa lampu gas gantung antik. Pada lampu gantung itu terdapat selang kecil yang dulunya menghubungkan tabung gas di dalam rumah. “Sebelum listrik masuk kampung ini, lampu itu dihidupkan menggunakan gas. Karena terbilang antik, kami menyumbangkan tiga buah lampu gas ke Museum Migas di Taman Mini [Indonesia Indah],” jelasnya.

Pada bagian belakang pendapa itu terdapat ruang utama dengan bangunan berbentuk joglo. Keunikan ruangan yang biasa disebut Dalem Ageng ini terletak pada langit-langitnya yang berupa seng warna biru bermotif kotak-kotak dan terdapat lukisan di permukaannya. Tepat di tengah-tengah dinding utama terdapat bilik kecil yang berisikan tumpukan bantal dan guling berwarna putih. “Orang Jawa menyebutnya dengan istilah kerobongan. Makna filosofisnya apa saya belum tahu, tetapi fungsinya untuk menaruh bantal dan guling,” ungkap Gunawan.

Rumah ini memang dibangun tanpa memiliki kamar. Pada bagian belakang ruang utama itu terdapat ruang belakang yang biasa dikenal dengan istilah senthong. Sementara di kedua sisinya terdapat ruangan yang dikenal dengan istilah gandhok kulon dan gandhok etan. “Kami memang tidak tertarik memberi sekat pada ruangan itu karena ingin mempertahankan pakemnya,” jelasnya.

Di pojok kanan belakang rumah terdapat jamban kuno yang dibangun pada 1847. Angka tahun itu tertera pada bagian depan temboknya. Jamban itu memang sudah direnovasi, kendati begitu bentuk aslinya masih tetap dipertahankan. “Bentuk jamban itu sama sekali tidak diubah. Kami hanya mengganti bagian lantai, atap dan klosetnya,” tambah Suyanto, adik ipar Gunawan. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS