JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino
 Bagian dalam Omah Londo, Purwosari, Solo JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino Bagian dalam Omah Londo, Purwosari, Solo

Rumah Unik : Omah Londo, Bangunan Peninggalan Belanda

344 Kali

Di Kota Solo masih banyak bangunan-bangunan lama yang dipertahankan keasliannya sebagai bangunan sejarah atau cagar budaya. Bangunan lama tersebut ada yang merupakan peninggalan penjajah Belanda, rumah para pengusaha, dan juga rumah para bangsawan keraton.
Bangunan-bangunan lama tersebut letaknya tersebar di beberapa lokasi di Kota Solo. Fungsi bangunan lama tersebut pun beragam. Ada yang difungsikan sebagai perkantoran, ada juga yang digunakan sebagai tempat tinggal pada saat itu.
Dari sekian banyak bangunan lama yang ada di Kota Solo, sebagian dibiarkan tanpa penghuni, bahkan ada yang sudah dalam kondisi tidak terawat, namun ada juga yang kemudian diperbaiki dan digunakan untuk tempat kegiatan budaya, ruang pamar, hotel, dan tempat makan.
Salah satu bangunan lama yang diperbaiki kemudian dimanfaatkan sebagai tempat makan atau tempat nongkrong sambil menikmati makan dan minum adalah, rumah lama di Jl. Agus Salim No. 2A, Purwosari, Solo.
Bangunan lama tersebut semula bagian dari pabrik es Saripetojo, digunakan sebagai rumah manajer dan wakil manajer pabrik es tersebut. Seiring berjalannya waktu, bangunan pabrik es berubah menjadi hotel, namun rumah tersebut dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya.
Saat ini setelah diperbaiki, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat makan dengan nama Omah Londo Angkringan.
Menurut pengelola Omah Londo, Miranti Wibowo, kendati digunakan sebagai tempat nongkrong, bentuk bangunan lama tersebut tetap dipertahankan.
“Sesuai namanya Omah Londo [Belanda], bangunan ini merupakan peninggalan Belanda. Tetapi berapa usia bangunan, saya tidak tahu,” terang Miranti Wibowo.

Tetap Dipertahankan
Jika dilihat dari bentuk bangunannya, dua rumah yang dijadikan satu tersebut memiliki model bangunan seperti peninggalan Belanda lainnya yang ada di Kota Solo. Bangunan ini memiliki jendela-jendela besar, pintu lebar dan atap bagian dalam yang cukup tinggi, sehingga sirkulasi udara cukup bagus.
“Bentuk rumah ini memang sengaja kami pertahankan, tujuannya agar masyarakat bisa melihat peninggalan sejarah. Memang ada proses perbaikan dan pengecatan ulang serta pemasangan lampu dan kipas angin. kami juga menambahkan sejumlah hiasan dinding untuk mempercantik ruangan,” terang Miranti.
Jendela yang cukup lebar memang terpasang di bangunan yang menghadap ke utara tersebut. Mulai dari ruang depan, kemudian di samping kiri dan kanan bangunan, termasuk bagian belakang yang terhubung dengan halaman, bentuk jendela dan pintu dibiarkan sama dengan aslinya. Saat berada di ruangan tersebut, udara panas dari luar bangunan bisa dikurangi. Apalagi ditambah kipas angin cukup besar di setiap ruangan, semakin menambah kesejukan.
Bagian rumah sisi timur yang digunakan untuk manajer dimanfaatkan sebagai ruang pemesanan aneka minuman. Kemudian di sisi timur ruangan tersebut ada dua kamar mandi dengan model lama. Kemudian ruang kosong di sebelahnya dimanfaatkan sebagai musala bagi pengunjung Omah Londo.
Ruang makan bangunan sisi barat dimanfaatkan untuk mendisplai masakan dan jajanan khas angkringan. Sementara ruangan di belakangnya dimanfaatkan untuk dapur. Sedang ruang makannya memanfaatkan kamar tidur dengan ukuran cukup besar. (Arif Fajar S./JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS