Pintu masuk Pintu masuk

Rumah Unik: Padepokan Brojobuwono, Transformasi Rumah Tujuh Turunan

658 Kali

Bangunan rumah itu itu kokoh berdiri di Desa Wonosari, Gondangrejo, Karanganyar. Lokasinya jauh dari hiruk-pikuk kota dan polusi sehingga membuat udara di sekitarnya terasa sejuk. Dua buah stupa berdiri di pucuk gapura masuk rumah milik Basuki Teguh Yuwono, pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini.

Rumah milik Basuki yang juga seorang empu itu sudah berdiri selama tujuh turunan lamanya. Pada awalnya, rumah itu berfungsi sebagai tempat tinggal. Sejak 1999, rumah itu bertransformasi menjadi Museum Keris Brojobuwono. Arsitektur rumah itu mengusung konsep adat Jawa. Kendati begitu, terdapat sejumlah ornamen dengan sentuhan gaya arsitektur Bali, zaman Hindu-Buddha hingga era masuknya agama Islam.

“Gaya arsitektur Bali itu juga dipengaruhi nuansa Jawa. Pada abad XI, XII hingga XIII di era kejayaan [Kerajaan] Singasari, Kediri dan Majapahit, banyak arsitektur gaya bernuansa Jawa yang dibawa ke Bali,” papar Basuki saat ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Basuki menyadari langkah menjadikan rumah tempat tinggal menjadi sebuah museum tidak direncanakan sejak awal. Gagasan untuk mengubah fungsi rumah itu datang dan berkembang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Selain terdapat museum keris, pada bagian lain rumah itu juga terdapat lokasi penempaan keris, ruang suvenir, ruang terbuka untuk pertunjukan hingga gua buatan untuk menyimpan koleksi fosil. Praktis, rumah itu tak lagi berfungsi sebagai tempat tinggal. Para penghuni rumah kini tinggal di sebuah paviliun yang berdiri di samping rumah induk. “Paviliun itu ada empat kamar di lantai I dan lima kamar di lantai II. Ruang itu sudah cukup untuk tempat tinggal kami,” papar kakak Basuki, Bamban Yuwono.

Untuk mengubah fungsi rumah itu, Bamban mengaku banyak terlibat dalam mendesain rumah. Pengajar arsitektur Universitas Tunas Pembangunan (UTP) itu mengakui renovasi rumah banyak dilakukan sesuai gagasan yang berkembang. Ruang utama yang dahulu difungsikan sebagai ruang tamu dan keluarga itu sudah disulap menjadi galeri museum keris. Sebagai gantinya, sebuah kamar tidur kini difungsikan sebagai ruang tamu yang dilengkapi dengan sejumlah suvenir dari bebatuan. Terdapat pula sebuah kamar yang dijadikan sebagai lokasi untuk menaruh Keris Ki Naga Minulya yang dibuat dari bijih besi dari material vulkanik Gunung Merapi. Keris berlapis emas dan batu permata itu disimpan di sebuah ruang yang terjaga kesakralannya.

Pada bagian belakang rumah terdapat bekas dapur yang kini difungsikan sebagai bengkel produksi keris. Sebelumnya, ruang itu juga sempat difungsikan sebagai kandang ternak. Kini ruangan itu sudah dipenuhi berbagai peralatan untuk menempa keris. Tak jauh dari bengkel keris itu terdapat beras kamar kakek Bamban yang kini difungsikan sebagai ruang galeri kujang, atau senjata tradisional suku Sunda. Bagian atasnya terdapat plafon rumah dari anyaman bambu yang membuat kesan klasik. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS