normal_20140803_meja_kursi_dr_kayu

Rumah Unik untuk belajar Kearifan Lokal

190 Kali

normal_20140803_bagian_atap_pendapa

Selain terkenal sebagai lokasi wisata air, Desa Daleman juga masuk dalam kawasan minapolitan bersama sejumlah desa lain seperti Ponggok, Cokro, Janti, dan lain sebagainya. Selain bertani, mayoritas penduduk setempat juga bermata pencaharian sebagai petani ikan. “Kearifan lokal di desa ini masih terjaga dengan baik. Para petani di desa ini biasa membajak sawah menggunakan bantuan sapi atau kerbau. Kendati mesin traktor sudah menjamur, para petani masih memanfaatkan sapi atau kerbau. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Mereka memilih tinggal di rumah-rumah joglo milik warga supaya bisa mempelajari keseharian kehidupan para petani di desa,” ungkap Bahtiar Joko Widagdo, saat ditemui Rumah190.com di rumahnya, belum lama ini.

Sejumlah wisatawan yang singgah di rumah joglo milik Bahtiar tidak hanya tertarik pada objek wisata air, minapolitan dan kearifan lokal dari petani di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Klaten. Wisatawan juga tertarik mempelajari kehidupan sosial masyarakat setempat. Selain menggeluti bidang pertanian dan perikanan, sebagian warga di Desa Daleman juga bermata pencaharian sebagai produsen mi suun. Di desa itu memang banyak ditemukan industri rumah tangga, produsen mi suun. Tak heran Desa Daleman selama ini juga dikenal sebagai sentra industri mi suun.

Keberadaan industri rumah tangga ini mampu memberikan penghasilan tambahan bagi warga sekitar. Kendati begitu, industri rumah tangga ini menghasilkan masalah besar yang hingga kini belum ditemukan solusinya. “Selepas menginap di rumah saya, saya biasa menemani para turis itu jalan-jalan ke perkampungan. Mereka heran melihat limbah-limbah pati yang dibiarkan teronggok di sekitar rumah. Baunya tidak sedap. Warga bingung mau membuang ke mana,” paparnya.

Menurut Koko, sapaan akrabnya, warga Daleman sudah kewalahan mencari cara memanfaatkan limbah itu. Kepada setiap turis yang mampir ke rumahnya, Koko selalu berharap masalah warga itu bisa dibawa ke kampung halaman mereka. Selama ini, warga dan pemerintah setempat sudah angkat tangan bagaimana cara menanggulangi limbah tersebut. “Warga sudah pasrah. Mereka berharap ada solusi terbaik untuk mengatasi masalah limbah itu. Siapa tahu, di negara para turis itu punya cara untuk menanggulangi masalah limbah ini,” paparnya. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Uncategorized

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS