Pada bagian pendapa Roemahkoe digunakan sebagai lobi penginapan./Tripadvisor.com Pada bagian pendapa Roemahkoe digunakan sebagai lobi penginapan./Tripadvisor.com

Sisi Komersial Rumah Etnik

377 Kali

RUMAH190.COM–Karena keunikan plus nuansanya yang bersahabat dan alami, rumah hunian berkonsep etnik sebenarnya memiliki nilai tambah yang bisa dikomersialkan.
Jika Anda kreatif didukung dengan naluri bisnis, rumah hunian Anda yang berkonsep etnik bisa dikembangkan menjadi tempat usaha yang menguntungkan.

Pada masa sekarang ini, sesuatu yang unik, etnik dan berbau kuno itu mahal harganya. Jika bisa mengelolanya dengan baik, sesuatu yang bersifat etnik dan kuno itu bisa digali sisi komersialnya. Seperti halnya rumah kuno berkonsep Jawa yang masih dipertahankan keasliannya sangat berpeluang dijadikan tempat usaha yang menguntungkan, sekaligus ikut mendukung upaya mempertahankan kebudayaan bangsa ini.

Seperti dilakukan oleh Krisnina Maharani Tandjung atau lebih dikenal dengan Nina Akbar Tanjung yang memanfaatkan bangunan rumahnya bergaya art deco dan dibangun tahun 1983 di Jl Dr Radjiman 501, Laweyan, Solo, untuk guest house plus restoran dengan konsep bed & breakfast berlabel Roemahkoe.

Suasana akrab

Manajer Operasional Roemahkoe, Ari Kurniawan mengungkapkan, rumah ini merupakan bekas tempat tinggal sekaligus tempat pembuatan batik milik Hj Puspomarto, seorang saudagar batik tempo dulu.

“Baru tahun 1997 dibeli oleh Ibu Nina dan tahun 2000 dipugar menjadi Roemahkoe ini,” ujar Ari saat berbincang dengan Rumah190.com di Roemahkoe.

Ari menjelaskan, ada beberapa bagian dari rumah seluas 2.000 meter persegi tersebut yang dipertahankan keasliannya dan ada sebagian yang dibangun baru tapi menyesuaikan dengan konsep bangunan aslinya. Penginapan dengan sentuhan nuansa Jawa ini mempertahankan keaslian bangunan induk.

Pada bagian pendapa digunakan sebagai lobi penginapan, krobongan digunakan untuk ruang pertemuan dan bisa disewa untuk pernikahan serta bagian senthong untuk perpustakaan dan ruang baca.

Sedangkan pada gandok kanan digunakan untuk tempat membatik dan belajar miru jarik. Sementara ruang di belakang senthong untuk tempat santai.

Ari menambahkan, desain Roemahkoe dibuat senyaman mungkin sehingga orang yang datang bisa merasakan suasana homy dan akrab.

“Kami ingin menciptakan penginapan dengan suasana homy dan hospitality. Kami juga mempertahankan konsep Jawa sebagai salah satu wujud melestarikan budaya Jawa dan bisa mengenalkan pada masyarakat tentang rumah Jawa,” ujarnya.

Pemanfaatan rumah hunian berkonsep Jawa untuk tempat usaha juga dilakukan H Subarjo pemilik rumah di Jl Latar Ireng 22 Tegalayu, Laweyan, Solo, yang digunakan untuk penginapan kelas Melati 3 dengan nama Griya Kencana.

Manajer Operasional Griya Kencana, R Baroto Priyokusumo menjelaskan, desain pada bagian bangunan induk penginapan ini masih mempertahankan bangunan rumah aslinya, sementara bagian belakang yang digunakan untuk kamar merupakan bangunan baru.

“Ini dulunya rumah tinggal. Namun pada tahun 1996 dimanfaatkan menjadi penginapan,” ujar Baroto. Griya Kencana seluas 900 meter persegi ini menggunakan konsep rumah Jawa joglo yang tertutup. Pada bagian pendapa yang bentuknya tertutup dengan dua soko guru terdapat patangaring atau gebyok kuno buatan tahun 1894.Pada emperannya digunakan sebagai tempat bersantai bagi tamu yang ingin duduk-duduk santai. (Aeranie Nur Hafnie)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS