/Moh. Khodiq Duhri Kompleks Pesanggrahan Langenharjo, di Desa Langenharjo, Grogol, Sukoharjo, /Moh. Khodiq Duhri Kompleks Pesanggrahan Langenharjo, di Desa Langenharjo, Grogol, Sukoharjo,

Tempat Rekreasi Keluarga Raja di Pesanggrahan Langenharjo

319 Kali

 

Cuaca yang panas berubah sejuk saat Rumah190.com memasuki kompleks Pesanggrahan Langenharjo, di Desa Langenharjo, Grogol, Sukoharjo, beberapa waktu lalu.

Kawasan Grogol khususnya dengan adanya kawasan hunian dan bisnis Solo Baru sudah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah menjamurnya bangunan bertingkat seperti hotel berbintang hingga pusat-pusat perbelanjaan, di kawasan ini masih terdapat bangunan kuno yang dibangun pada masa Sinuhun Paku Buwono IX sekitar 1870.

Pesanggrahan Langenharjo merupakan satu dari 10 pesanggrahan milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain Langenharjo, beberapa pesanggrahan itu antara lain dibangun di Parangjoro, Sukoharjo; Pracimoharjo, Boyolali; Deles, dan Tegalgondo di Klaten, Tawangmangu, Karanganyar; dan Kandang Menjangan di Kartasura, Sukoharjo. Namun, hampir sebagian besar bangunan bersejarah itu kondisinya tidak terawat. “Bahkan, Pesanggrahan Parangjoro itu kini sudah tidak tersisa karena sudah rata dengan tanah. Sebagian lahannya sudah dibangun rumah-rumah penduduk dan pertokoan,” ungkap kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Sekar Kencono, saat ditemui Rumah190.com di kompleks Pesanggrahan Langenharjo.

Bangunan yang dahulu berfungsi sebagai tempat rekreasi, istirahat sekaligus meditasi bagi keluarga raja ini didesain dengan gaya arsitektur Jawa. Beberapa unsur bangunan Jawa yang masih bisa terlihat adalah pendapa, ruang dalem, gandhok kiwo dan gandhok tengen. Uniknya, pesanggrahan yang sempat direnovasi secara besar-besaran pada masa Sinuhun PB X ini memiliki dua pendapa yang berlokasi di depan dan di belakang. Di sebalah kanan dan kiri pesanggrahan ini terdapat bangunan memanjang yang disebut Panti Tamu dan Panti Nata. “Panti Tamu memang biasa digunakan untuk menyambut para tamu. Sementara Panti Nata biasa difungsikan sebagai tempat istirahat raja dan keluarganya,” jelas GKR Sekar yang memiliki nama kecil GRA Koes Handariyah ini.

Di ruang dalem ageng terdapat anak tangga yang menghubungkan ruangan di lantai dua. Ruangan yang diberi nama Sanggar Pamujan itu biasa digunakan raja dan putra-putranya untuk bermeditasi. Sementara pada pendapa di bagian belakang terdapat kursi singgasana raja. Di belakang bangunan panti nata terdapat kolam pemandian yang biasa digunakan raja untuk berendam air. Tak jauh dari kolam itu terdapat ruang untuk bersemedi dan ruang untuk mandi bernama sendang bandung. Sementara pada bagian belakang terdapat tempat pemandian yang bisa dipakai untuk umum. Semula air di sumur pemandian itu terasa hangat karena adanya kandungan belerang. Seiring berjalannya waktu, debit air dan kandungan belerangnya makin berkurang. “Dulu tempat pemandian air hangat itu biasa dipakai untuk mengobati penyakit kulit. Sekarang pemandian itu disewakan untuk umum. Setiap Minggu digelar lomba burung berkicau di lokasi pemandian itu,” tambah Sekar. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS