Atap yang terbuat dari bahan tanah liat lebih ramah lingkungan dan memiliki keunggulan dapat menyerap panas sehingga hawa di dalam rumah terasa lebih sejuk.(JIBI/Solopos/Antara/Prasetia Fauzani) Atap yang terbuat dari bahan tanah liat lebih ramah lingkungan dan memiliki keunggulan dapat menyerap panas sehingga hawa di dalam rumah terasa lebih sejuk.(JIBI/Solopos/Antara/Prasetia Fauzani)

Tips Memilih Atap yang Tepat

452 Kali

RUMAH190.COM–Menurut fungsinya, atap memiliki peran sebagai penutup ruangan dari hujan, terpaan angin dan terik matahari. Dalam perkembangannya kini atap tak sekadar penutup tapi juga sebagai bagian dari estetika dan fashion rumah. Banyak pilihan tersedia di pasar. Ada beragam jenis atap yang dapat dijadikan pilihan, mulai dari yang terbuat dari asbes, seng, tanah liat, metal atau sering disebut galvalume hingga atap dari bahan beton.

Arsitek dari PT Kusuma Mulia Realty, Tri Hartanto mengungkapkan atap yang terbuat dari bahan tanah liat lebih ramah lingkungan dan memiliki keunggulan dapat menyerap panas sehingga hawa di dalam rumah terasa lebih sejuk. Namun, ketika musim hujan tiba, jenis genteng dari tanah liat sangat rentan mengalami kebocoran karena mudah menyerap air hujan.

”Selain itu, karena mudah menyerap air itu pula membuat genteng tanah liat menjadi lebih berat sehingga berpengaruh terhadap beban yang harus disangga oleh konstruksi bangunan. Semakin berat beban yang disangga konstruksi bangunan otomatis akan berpengaruh pada biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun rumah, karena konstruksi bangunannya juga harus lebih kuat jika dibandingkan kontruksi bangunan yang menyangga atap yang ringan,” jelas Tri saat berbincang dengan Espos.

Dia menambahkan, genteng tanah liat masih terbagi dalam beberapa macam jenis, antara lain cetakan manual dan press. Ada pula genteng keramik yang memiliki warna mengkilap sehingga air yang membasahi genteng akan mengalir dan tidak merembes. Dengan warnanya yang mengkilap, tidak perlu dilakukan pengecatan ulang. Genteng keramik ini memiliki risiko kecil terhadap kebocoran.

Sementara jenis genteng dari metal dan alumunium memiliki keunggulan tahan air, ringan dan tidak mudah bocor. ”Genteng seperti ini bentuknya berupa lembaran dan motifnya menyerupai genteng dari tanah liat. Warnanya pun bervariasi. Sekarang ini sudah banyak orang yang menggunakan jenis genteng semacam ini untuk dipasang sebagai atap rumah,” kata dia.

Kelemahan atap dari bahan alumunium adalah bisa terjadi korosi. Untuk mencegah korosi dapat diantisipasi dengan melakukan pengecatan pada genteng tersebut. Harga genteng dari bahan metal dan alumunium relatif lebih mahal jika dibandingkan genteng tanah liat. Sedangkan atap dari bahan beton atau sering disebut dak beton biasanya digunakan untuk membuat atap datar. ”Dak beton biasanya untuk atap teras. Bahan ini tahan bocor, namun biaya pembuatannya relatif mahal,” ujar Tri.

Sementara untuk mencegah kebocoran saat hujan turun, Tri menyebutkan ada beberapa langkah yang dapat ditempuh. Salah satunya dengan melakukan perawatan rutin pada atap, yakni dengan melakukan pengecatan pada genteng minimal satu tahun sekali.

”Orang kadang lupa untuk melakukan perawatan atap, padahal hal ini sangat penting untuk menjaga genteng tetap awet dan tidak bermasalah,” ujarnya.

Selain itu, pemilihan bahan atap juga sangat penting untuk menghindari masalah kebocoran yang menjadi masalah utama yang kerap menghinggapi atap rumah. ”Pemasangan genteng juga harus tepat. Untuk kemiringan atap, idealnya genteng dipasang pada sudut kemiringan atap 30 derajat hingga 40 derajat. Hal ini bisa mencegah kebocoran,” kata dia. (anh)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS