Kondisi teras rumah peninggalan kolonial Belanda milik Any Broto Sunaryo, 70, di kawasan Villa Park Banjarsari. Teras tersebut menjadi satu-satunya bagian rumah klasik ini yang sudah pernah dipugar. (Dok) Kondisi teras rumah peninggalan kolonial Belanda milik Any Broto Sunaryo, 70, di kawasan Villa Park Banjarsari. Teras tersebut menjadi satu-satunya bagian rumah klasik ini yang sudah pernah dipugar. (Dok)

Villa Park Banjarsari Sisa Gaya Indisch

1221 Kali

Di era kolonial Belanda, kawasan yang masuk wilayah Kelurahan Setabelan, Banjarsari, Solo, ini bernama Villa Park. Disebut Villa Park karena di situ banyak rumah-rumah berbanjar menyerupai vila yang mengelilingi sebuah taman. Pada zaman Orde Baru, sebuah monumen dibangun di kawasan ini untuk memperingati Pertempuran Empat Hari di Solo.
Kawasan ini sempat menjadi kumuh akibat serbuan pedagang kaki lima yang membuat lapak-lapak di jalanan. Pada 2006 silam, Pemerintah Kota Solo mensterilkan kawasan ini dari pedagang kaki lima (PKL). Sejak saat itu, nama Villa Park kembali disematkan kepada kawasan ini.
Hingga kini, rumah-rumah bergaya arsitektur kolonial Belanda ini masih bisa dijumpai di sekitar Villa Park Banjarsari. Sebagian besar bangunan itu memang sudah dipugar sehingga tidak tampak bentuk aslinya. Namun, terdapat segelintir rumah yang kondisinya masih orisinal. “Ini adalah satu dari dua rumah peninggalan Belanda yang masih terjaga kemurniannya. Pemugaran hanya kami lakukan pada bagian teras karena bentuk aslinya terlalu kecil,” kata Any Broto Sunaryo, 70, pemilik salah satu rumah peninggalan kolonial Belanda di Villa
Park Banjarsari saat ditemui Espos di kediamannya, beberapa waktu lalu.
Pensiunan PNS di Universitas Sebelas Maret (UNS) itu sudah tinggal di Villa Park sejak 1950, saat mendiang ayahnya, mantan Bupati Sukoharjo, R. Broto Sunaryo, dipindahtugaskan sebagai Residen yang Diperbantukan (DP) di Karesidenan Surakarta. Saat itu keluarganya masih menyewa rumah itu dari pengelola Pabrik Gula Colomadu. Lantaran pabrik ini bangkrut, rumah-rumah itu kemudian dijual kepada penghuni sehingga berstatus hak milik (HM) hingga sekarang.
Any menyebut rumahnya masih kokoh. Atap maupun lantai rumah ini masih asli dan belum pernah direnovasi. Renovasi yang dilakukan selama ini hanya bersifat parsial. Rumah Any yang berdiri di tanah seluas sekitar 1.300 meter persegi
itu terdiri dari dua bagian. Rumah utama atau induk memiliki atap tinggi menjulang dan berundak dua yang menjadi salah satu ciri khas rumah-rumah Indisch atau perpaduan gaya Eropa dengan Nusantara. Sementara rumah kecil yang
berada di bagian belakang untuk para pembantu rumah tangga.
Kedua bangunan rumah itu sama-sama memiliki fasilitas dapur, kamar mandi, serta kamar. Kedua bangunan rumah itu dihubungkan oleh jalan kecil yang dilengkapi atap. “Pada rumah bagian belakang terdapat garasi yang dilengkapi ruang sempit untuk menaruh segala peralatan bongkar pasang kendaraan, onderdil, ban bekas dan lain sebagainya,” tambah Any. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS