Courtesy of KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies Sebuah foto lama yang didokumentasikan oleh institut antropologi Belanda, KITLV, menunjukkan kondisi taman di kawasan Villa Park tahun 1930-an, yang kini masuk wilayah Stabelan, Banjarsari, Solo. Di tengah taman itu terdapat sebuah tugu (kiri). Saat ini di lokasi tersebut berdiri Monumen Juang �45 untuk memperingati serangan umum empat hari di Kota Solo tahun 1949. Courtesy of KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies Sebuah foto lama yang didokumentasikan oleh institut antropologi Belanda, KITLV, menunjukkan kondisi taman di kawasan Villa Park tahun 1930-an, yang kini masuk wilayah Stabelan, Banjarsari, Solo. Di tengah taman itu terdapat sebuah tugu (kiri). Saat ini di lokasi tersebut berdiri Monumen Juang �45 untuk memperingati serangan umum empat hari di Kota Solo tahun 1949.

Villa Park Banjarsari Terlarang untuk Pribumi

2805 Kali

Pengamat sejarah Solo, Heri Priyatmoko, menyebut kawasan Villa Park Banjarsari pada masa kekuasaan Mangkunegara IV (1853-1881) merupakan lapangan pacuan kuda yang sengaja dibangun demi menghibur para bangsawan. Saat itu, kondisi perekonomian Mangkunegaran memang tengah maju pesat karena bisnis komoditas gula dan kopi mampu menembus pasar internasional.

Seiring berjalannya waktu, lokasi pacuan kuda itu disulap Mangkunegara VI (1896-1916) menjadi tempat hunian golongan Eropa yang bekerja di bidang perkebunan. Hunian itu dibangun mewah dengan gaya arsitektur model Indisch atau perpaduan gaya Eropa dengan adat Nusantara. Rumah-rumah menyerupai vila itu dibangun berjajar mengelilingi sebuah taman.

“Saat itu, warga pribumi dilarang bermukim di Villa Park meski mereka berhak atas kepemilikan tanahnya. Warga pribumi yang diperbolehkan menumpang hanya jongos [pelayan laki-laki], wasbaboe [tukang cuci], kokkie [juru masak] serta kebon [tukang kebun],” kata Heri saat dijumpai Espos, beberapa waktu lalu.

Menurut Heri, orang-orang berkulit putih sangat membutuhkan pembantu perempuan yang tak hanya canggih di dapur, namun cakap pula dalam urusan memuaskan nafsu birahi. Hidup bersama layaknya sepasang suami-istri tanpa ikatan perkawinan memang sudah biasa pada zaman kolonial Belanda. Dari situlah lahir warga keturunan Indo-Eropa.

“Villa Park Banjarsari sebetulnya adalah situs sejarah Indisch. Tidak sedikit warga keturunan Indo-Eropa tertarik menelusuri jejak nenek moyangnya di Nusantara, termasuk di kawasan Villa Park Banjarsari. Sudah sepatutnya, Pemkot Solo menggarap Villa Park menjadi wisata edukasi dan situs sejarah. Inilah peluang emas yang mestinya ditangkap Pemkot Solo,” kata alumni Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

(Moh. Khodiq Duhri/JIBI)

RELATED POST FOR CATEGORY

News

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS